Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Rabu, 04 Desember 2013

UNTOLD STORY 8 (Ramadhan Kareem & Ied Mubarrak 1434 H)

Ayahanda...
Jangan merasa khawatir anakmu ini tidak bisa makan, tetapi khawatirlah kalau anakmu memubazirkan makanan..
Jangan merasa khawatir anakmu ini ketinggalan jaman karena tidak memiliki gadget terbaru, tapi khawatirlah kalau anakmu ini mulai melupakan silaturahim karena sibuk dengan gadgetnya..
Jangan merasa khawatir anakmu ini tidak bisa mewujudkan cita-citanya, tapi khawatirlah ketika cita-citanya membuat anakmu ini melupakan pengorbananmu..
Jangan merasa khawatir anakmu ini kehujanan karena tidak memiliki mobil mewah, khawatirlah ketika mobil mewah itu membuat anakmu lupa dan enggan menginjakkan kakinya ditanah yang basah dan berlumpur..
Dan ayahandaku tercinta..
Jangan pernah khawatir engkau tidak mampu memberikan semua yang diinginkan anakmu ini, khawatirlah ketika semua pemberianmu membuat anakmu lupa bersyukur dan menjadikannya arogan serta egois..



Dear Readers...
Sebelumnya Marhaban Yaa Ramadhan... Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Lewat postingan ini saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf saya jika ada kata ataupun kalimat dalam postingan saya yang menyindir secara langsung atau menyiggung perasaan sahabat semuanya. :)

Postingan kali ini saya hanya ingin bercerita tentang cerita Ramadhan sekitar 15 tahun yang lalu. Cerita yang mungkin tidak pernah diceritakan sebelumnya atau hanya ada dalam sebuah novel dan script sinetron terbaru yang bertema religius. ;)

Ini Ramadhan ke-10 saya di perantauan yang mungkin justru telah menjadi rumah saya. Kata orang tidak baik mengingat-ingat semua peristiwa yang sudah berlalu, tapi untuk saya, saya menyukai mengenang perjalanan 10 tahun saya di Jogja. Mengingat untuk kemudian bersyukur bahwa saya begitu beruntung memiliki semua yang saya miliki sekarang. Selalu menyimpan kerinduan yang sama, merindukan suasana sahur dan berbuka yang meski hanya sederhana tapi begitu membahagiakan. Terselip sebuah kerinduan akan sebuah nama yang begitu melekat dihati saya. Yaaa, almarhum adik saya Adam aka isnain aka nain. My beloved young  brother.

Saya hampir melupakan Ramadhan kami bersama jika saya tidak menemukan foto lama yang tersimpan dilaci lemari saya. Saya mencoba mengingat suasana Ramadhan 15 tahun yang lalu. Saya masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar Negeri di sebuah kabupaten di Papua Barat. Yang teringat adalah kami layaknya anak seusia kami selalu bermain seolah tidak sedang berpuasa. Teringat nama-nama teman kecil kami yang juga adalah tetangga Kak hardi, kak aty, kak acip, benhur, safar, ian. Yaa yaa yaaa, saya memang cewek sendiri, tapi mau bagaimana lagi saya dulu bukan tipe anak perempuan yang hobi main boneka. ;D

Dulu saat Ramadhan, mama pasti bertukar makanan dengan tetangga sebelah kami. Keluarga seorang Polisi yang namanya juga sama dengan nama babhe. Mungkin itu yang membuat saya begitu merindukan suasana Ramadhan di kota kecil yang membentuk setiap karakter saya sebelum pindah ke Timika. Hampir hilang dari ingatan saya betapa saya dan almarhum nain begitu menikmati keadaan kami dulu. Yang bisa dibilang jauh dari keadaan saya sekarang. Tanpa mempermasalahkan apa yang menjadi menu berbuka puasa, puding karamel kurma sederhana dan segelas teh manis sudah lebih dari cukup. Mama pandai memasak dan membuat kue. Dan bolu biasa yang hanya terbuat dari 6 butir telur, margarin, dan gula pasir yang kemudian dicampur pasta coklat untuk membuat tampilannya lebih menarik sudah sangat mewah untuk saya dan nain. Atau es buah yang hanya berisi sari kelapa dan kelapa muda juga sirup cocopandan. Saya masih bisa merasakan nikmatnya. Dan saat shalat tarawih berjamaah yang berjumlah 23 rakaat, kami tetap enjoy melakukannya selama sebulan penuh.

"To be old and wise, you must first have to be young and stupid."

Saat membaca kalimat itu saya hanya bisa tersenyum simpul mengingat semua kebodohan dan juga kreatifitas yang telah lahir lebih dulu sebelum saya bisa merangkai kalimat yang kata sebagian orang begitu menyentuh hati. Saya bukan berasal dari keluarga ustad atau syekh, tetapi Kakek dan babhe saya mengajarkan semua ilmu agama kepada saya sebatas yang perlu saya tahu. Seperti shalat, membaca Al-Qur'an, zakat, infak dan semua kebaikan yang membentuk saya menjadi seperti sekarang. Saya mungkin pernah bercerita kalau saya tidak pernah bisa membaca Qur'an hingga saya duduk di bangku SMA. Tapi kakek saya mengajarkan kepada saya menghafal Juz 'Amma dalam Qur'an. Surat-surat pendek yang bagi sebagian teman-teman SMA saya dulu sangat tidak mungkin dihafal. Inilah yang saya sebut, ketika Allah memberi sebuah kekurangan, maka akan dilebihkan bagian yang lain. And that's so true. Nain juga begitu, tetapi dia jauh lebih cerdas dari saya. Dia sudah bisa membaca Qur'an sejak SD kelas 3.

Saya begitu merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana tidak ada yang harus saya khawatirkan hingga ketika saya lupa untuk khawatir, adik saya dijemput pulang kembali kepada yang memiliki. It's hard to believe when you think everything will just fine, when everything will gonna be ok, or when everything will happen just like you want it to be happen. The years after my brother pass away, is hard for me to believe good thing happens for those who wait. I rather to believe that bad thing will always happen to good people.

"Every morning starts a new page in your story. Make it a great one TODAY..!!"

Minggu dan bulan berlalu menyadarkan saya bahwa keyakinan saya itu tidak akan membawa adik saya kembali hidup. So, I decide to live for today and bring out the memory of my beloved brother. He always here for the whole time. Every time the days become raining, its a sign that my brother misses us.

I thank Allah for everything I ever had, I had now and I will had. Kita tidak bisa mengatur arah angin yang bertiup, tapi kita bisa mengatur layar perahu dan menikmati perjalanan yang penuh dengan kejutan. Cos at the end of the day, Everything will gonna be ok, if not okay then its not end yet.

Okay, this some pictures from the celebration.







No matters how long he's been gone, one thing we believe is we still misses you and we always will.


P.S : November 29 is my nain bornday. If he still alive, he will turn to handsome man in my life.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar