“...when you find yourself in some far off place and it causes you to re-think something,, you start to sense that slowly you're becoming someone else and then you find yourself (again)...”
Menjadi mahasiswa mungkin merupakan fase dalam kehidupan yang setiap tahun semakin menjadi sangat penting. Jika dulu kuliah hanya untuk orang-orang yang punya banyak biaya, saat ini siapa pun bisa kuliah. Dari anak petani hingga anak pejabat, dari beasiswa pemerintah atau swasta. Awal-awal masa menjadi mahasiswa yang baru saja melepas status dan seragam putih abu-abu menjadi masa-masa yang akan menentukkan nasib bagi sebagian orang atau untuk sebagian yang lain hanya sekedar mengikuti perintah orang tua dan trend. Belum lagi jika kuliah itu harus dilakukan jauh dari orang tua alias merantau. Biaya tambahan untuk ngekos dan segala kebutuhan selama kuliah menjadi beban tersendiri. Itu sebabnya para orang tua sangat menuntut harus menyelesaikan kuliah lebih cepat atau tepat pada waktunya. Selain untuk menghindari biaya kuliah tambahan jika tidak lulus tepat waktu, juga menghindari biaya tambahan untuk kebutuhan hidup jika merantau. Dan mungkin, agar si anak atau mahasiswa tersebut bisa sesegera mungkin menjadi mandiri dalam artian bisa segere bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Tapi, ada yang terlupa dari para orang tua dan juga (mungkin) mahasiswa itu sendiri. Bahwa ternyata, kuliah itu tidak semudah kelihatannya, tidak se-fun tampaknya, atau tidak seindah yang sering diceritakan oleh orang-orang yang telah menyelesaikan masa tersebut. (trust me I knew it)
Mengikuti kuliah memang mudah. Masuk kelas, presensi, mendengar celotehan dosen yang belum tentu bisa dimengerti, makan siang di kantin, jika ada jadwal kuliah lagi tinggal masuk dan kalau tidak ada tinggal pulang. Begitu saja siklusnya. Dan saat ujian tengah semester dan ujian akhir semester tiba, tinggal mencari mahasisiwi yang paling rajin menulis semua materi terus pinjem catatan, dicopy, dan tadaaa... saat ujian bisa dapat nilai A (kalau dosennya gak pelit nilai). As easy as that. Ada proses belajar memang sebelum ujian. Dan itu pasti dilakukan bagi mahasiswa yang sangat niat untuk dapat nilai bagus dan IPK yang luar biasa. Saya termasuk dalam kategori semua jenis mahasiswa. Yang rajin masuk kuliah, yang rajin menyimak dan menulis semua materi kuliah, membuat tugas kuliah, dan juga menjadi mahasiswa yang kerjanya hanya menggampangkan masalah, seperti saat ada teman yang mengajak bolos kuliah saya juga ikut (kecuali jika mata kuliah itu adalah mata kuliah dosen favorit saya atau mata kuliah yang sangat saya kuasai).
Tahun pertama merupakan masa adaptasi yang bagi saya adalah ajang untuk menentukkan siapa teman saya, siapa saja yang akan saya jadikan panutan dan baju apa yang akan saya kenakan setiap hari. Karena jika saat SMA hanya pake seragam, yang di ganti setiap hari kamis dan jumat, maka saat kuliah harus terus-terusan mengganti apa yang akan dipakai hari ini dan esok hari. Dan saat itu saya hanya beranggapan bahwa saya memang cuma mau kuliah bukan mau fashion show jadi tidak akan ada yang peduli saya mau pake baju apa. (plus saya berkuliah di universitas milik organisasi Islam terbesar di Jogja yang mewajibkan mahasiswinya berjilbab/berkerudung)
Tahun kedua saya sudah menemukan teman, orang yang menjadi inspirator dan pakaian yang tentu saja selalu berkembang mengikuti trend masa itu. Dan sekedar info bahwa saya yang dulunya bukan siapa-siapa kini mulai dilihat sebagai seseorang. Bukan karena jabatan ayah saya atau seberapa sering saya mengganti handphone, tetapi karena nilai-nilai mata kuliah yang berdampak sangat baik pada IPK saya juga keceriaan yang mengakibatkan saya tergolong dekat dengan dosen-dosen favorit saya. Semua itu bukan tanpa konsekuensi. Banyak orang-orang yang tidak suka dan mulai mencari-cari celah untuk menjatuhkan. Semua yang saya ucapkan atau lakukan akan salah di mata mereka. Tapi seperti yang selalu dipesankan ayah saya bahwa jika kita melakukan sesuatu yang baik dan itu mengakibatkan banyak orang terlihat buruk, jangan pernah berhenti untuk melakukan hal baik itu. Mereka yang mencela dan merasa dirugikan hanya bukti bahwa kita menjadi semakin baik dan baik.
"...when you make new friend in a brand new town and you start to think about settling down,, the things that would have been lost on you are now clear as a bell..."
Tahun ketiga, saya mulai kehilangan orang-orang yang saya percayai akibat dari ketidak sepahaman mereka tentang perjuangan dan kehidupan. Saya tidak berteman terlalu dekat di tahun ini dengan teman-teman seangkatan saya karena mereka pun telah memilih jalan mereka masing-masing seperti yang saya lakukan. Dan sangat menyakitkan saat kita disadarkan oleh kenyataan bahwa mereka yang dulu selalu bersikap baik karena “ada maunya” kini beranjak pergi karena “kemauan” mereka sudah tidak bisa dipenuhi lagi. Dan inilah saya dengan kesendirian saya, bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang justru datang dari angkatan baru di bawah saya, merasa bahwa inilah seharusnya teman-teman yang saya pilih. Seperti inilah seharusnya. Yang tidak minta dibuatkan tugas tapi mengajak berdiskusi meski selalu berakhir dengan tugas tidak selesai dan justru jalan-jalan. Tapi seperti itulah seharusnya. Why so serious? Di tahun ini juga saya berkesempatan menikmati perjalanan belajar di luar negeri pertama yang menunjukkan satu lagi keegoisan harus disingkirkan. Dan begitulah ritme kehidupan. Ada menang ada kalah. (Anyway the trip is so wonderful. and make me believe that no one can't stand your way to the top. You just can only believe yourself and believe your parents always pray best thing to you)
Tahun keempat, saya mulai disibukkan kembali dengan rutinitas kuliah dan mulai dihadapkan pada persoalan sesungguhnya. Skripsi, Tugas Akhir (TA) atau mungkin ada sebutan lain saya tidak begitu paham. Inilah syarat sebelum saya dan para mahasiswa diseluruh nusantara diperbolehkan memakai gelar Sarjana ..........(isi sesuai jurusan)
Saya mulai dipusingkan dengan judul, materi apa yang akan saya jadikan khusus, dan masalah apa yang akan saya teliti. Semua itu berkumpul dan berputar-putar dikepala yang membuat saya semakin enggan mengerjakannya. Dan untuk beberapa saat (terjadi berulang kali),, saya sangat bersemangat untuk mengetik skripsi saya (meski pada akhirnya saya mulai kebingungan apa yang akan saya ketik). Semakin hari saya semakin terdesak, entah karena saya melihat sebagian besar teman-teman seangkatan saya sudah lulus dan wisuda atau karena desakan dari orang tua saya yang meskipun tidak terdengar seperti : "Cepat selesaikan kuliahmu!!",, tapi saya cukup sadar bahwa pertanyaan seperti : "sudah sampai dimana skripsimu?" atau "kapan wisuda?",, mampu "menampar" jiwa saya untuk harus sesegera mungkin menyelesaikan skripsi saya. Hampir semua orang tua yang tidak berkuliah (maaf) tidak tahu betapa menderitanya menyusun skripsi (apalagi jika dosennya super sempurna hingga salah tanda baca pun akan disuruh revisi (maaf (lagi))) sehingga penyusunan skripsi dan penyusunnya benar-benar stuck dan terjebak hingga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya sempat marah kepada orang tua saya (sungguh ini tidak pantas dicontoh) karena saya benar-benar sudah tidak sanggup untuk menyelesaikan skripsi saya (menurut pikiran saya yang sedang galau saat itu) dengan bilang : "mama sama papa nggak tau sih gimana susahnya bikin skripsi,, belum lagi dosennya banyak mau,, yang kemarin sudah dibenerin eh tau2 sekarang disalahin padahal beliau sendiri yang nyuruh ngetik begitu!!",, (bayangkan dengan ekspresi sangat putus asa dan sedih) yang akhirnya sungguh sangat saya sesali. Dan kemudian ada sms dari ayah saya yang isinya : "ada saat dimana kita akan merasa kalah dan merasa seakan dunia tidak adil pada hidup kita, tapi percayalah nak, apa pun yang kau ambil, keputusan seperti apa pun yang kau pilih, mama sama bapak selalu doakan yang terbaik. Ingat nak, Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengarkan, Dia mendengarkan semua yang terucap dan bahkan yang cuma dibisikkan oleh hati, jangan pernah putus asa nak, kalau capek istirhat dulu jangan terlalu dipaksa". Saat itulah saya tersadar bahwa selama ini saya tidak pernah mengatakan hal yang seharusnya saya katakan pada orang-orang yang terkesan mendesak untuk segera menyelesaikan wisuda. Hal yang menjadi jawaban dari setiap kegundahan dan muncul saat saya begitu terdesak. Yaaapp!! Seharusnya saya bukan lantas tersinggung atau marah karena berpikiran mereka berpikir saya ini (maaf) bodoh hingga tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu tetapi seharusnya saya bilang : "saya sadar bahwa saya yang meminta kuliah dan orang tua saya setuju dan dengan sangat rela mau bekerja keras untuk membiayai kuliah saya. Saya bukan betah menjadi mahasiswa atau tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah, saya juga merasa sangat bertanggung jawab terhadap orang tua saya untuk segera lulus dan kemudian bekerja untuk kemudian gantian "membayar" jerih payah orang tua saya (yang sangat tidak mungkin terbayar) tetapi saya tidak perlu didesak, saya sadar bahwa waktu terus berjalan dan saya tidak akan selamanya mau seperti ini, saya juga sangat sadar saya punya mimpi dan cita-cita yang wajib saya capai, saya hanya ingin membuat orang tua saya bangga dan membuat mereka merasa tidak sia-sia bekerja keras". Akhirnya orang tua saya mengerti apa yang ada dalam pikiran saya dan kemudian tanpa henti menyemangati saya (meski dengan setengah mendesak) dan tanpa henti juga mendukung baik moril dan materil (yaaa,, skripsi saya memakan biaya yang luar biasa banyak jika harus menghitung biaya transportasi antar propinsi (JOGJA-PAPUA)) sehingga akhirnya saya bisa menyelesaikan skripsi saya, tampil sangat cantik di hari wisuda saya (narsis dikit), dan meskipun IPK saya tidak mencapai angka 3,9 ,, saya bisa membuat orang tua saya bangga karena paling tidak saya bergelar cumlaude (IPK saya 3,68) dan saya berfikir saya tidak perlu punya IPK tinggi,, cukup orang lain tahu saja siapa saya, apa saja yang sudah saya capai, dan saat membaca skripsi saya (dari halaman judul hingga lampiran) mereka akan sadar saya bukan sekedar mahasiswi yang terlambat wisuda dan sempat terjebak dalam situasi yang sungguh tidak bisa dibayangkan. (trust me I have experience to talk like this)
"...we go through life,, so sure of where we're heading,, and we wind up lost and its the best thing that could have happened,, cause sometimes when we lose our way,, its really just as well because we'll find our selves..."
So,, saran saya saat ada orang yang bertanya kapan wisuda,, jawablah dengan sangat jujur yaitu bilang secepatnya (dalam hati berdoa dengan niat akan berusaha se-berusaha-berusahanya),, karena kita mungkin bisa membohongi orang lain tapi tidak dengan diri kita sendiri. Dan saat kita mulai berpikir bahwa semua sepertinya tidak mungkin, percayalah nothing is impossible even for mission impossible.,, dan satu lagi,, jangan pernah terpengaruh apa yang dikatakan oleh senior-senior yang sebagian besar justru menjatuhkan semangat kita (kecuali kalau seniornya seperti saya tentunya,, hehehehe..) dengan cara mulai menakut-nakuti tentang dosen yang susah diajak kompromi atau dosen yang bakal "membantai" kita habis-habisan dengan pertanyaan yang berkaitan dengan skripsi. Ingat saja betapa luar biasanya orang tua kita yang tidak pernah lelah bertanya "kapan wisuda??" hehehehe... atau betapa tegarnya mereka melihat anak-anak sahabat-sahabat mereka sudah wisuda sedangkan anak mereka sendiri masih berkutat dengan netbuk keluaran paling gress,, atau dengan i-pad baru yang didapat dengan cara sangat memelas (karena alasannya buat nyelesaiin skripsi),, atau ingat juga saat mereka tidak amat sangat egois menutup telinga mereka dari suara-suara yang merendahkan anak mereka yang sangat mereka banggakan.
Sahabat,, perjuangan kita belum bernilai apa-apa jika dibandingkan dengan perjuangan orang tua kita terutama ibu yang berjuang menahan kerinduan berada jauh dari anaknya (untuk mahasiswa yang merantau) atau ayah yang menahan egonya hanya agar melihat kita membawa namanya dengan penuh kebanggaan. Bersabarlah,, tapi tetap berusaha dan berjuang,, jalan hidup kita masih panjang (meski kita tidak tahu kapan maut akan menjemput kita) dan kita diajarkan untuk beribadah seolah kita akan mati besok dan berusahalah dalam kehidupan sekan kita akan hidup selamanya.
Hidup ini seperti terowongan panjang yang gelap,, kita akan selalu melihat setitik cahaya kecil di ujung terowongan,, maka kita harus tetap berjalan,, saat lelah istirahatlah sejenak tapi jangan berhenti,, hingga akhirnya kita tahu bahwa kita telah sampai di tempat yang lebih baik. Karena sungguh after the hardship comes ease, truly after the hardship comes ease. Jangan pernah berhenti untuk mengharap sebuah kebaikan,, karena hanya kebaikan yang akan membuat semua usaha kita bernilai. Percaya saja bahwa kesulitan itu seperti bayi,, akan tumbuh besar jika diasuh.
Saya teringat pernah membaca kalimat yang ditulis Napoleon Hill (author, journalist, attorney, lecturer),, "Great achievement is usually born of great sacrifice,, and it's never the result of selfishness". Yang kurang lebih saya artikan bahwa prestasi yang besar biasanya lahir dari pengorbanan yang besar,, dan itu tidak pernah merupakan hasil dari keegoisan.