Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Minggu, 12 Oktober 2014

INSIDE STORY (Love, The Sacrifice and Sincerity)



“Hidup itu tentang belajar. Belajar bersyukur meski terasa kurang, belajar ikhlas meski mungkin tak rela, belajar taat meski kadang berat, belajar memahami meski mungkin tak sehati, belajar bersabar meski terbebani, belajar untuk setia meski sangat tergoda, belajar memberi walau sedikit, belajar mengasihi meski disakiti, belajar tenang meski gelisah atau belajar percaya meski terlalu ragu...”



Happy Eid Al Adha Mubarak to all friends and relatives.

Dear readers,
Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H. Semoga kita semakin taat dan ikhlas serta sabar yaa..

Hampir sama seperti Idul Adha tahun-tahun sebelumnya, saya melakukan rutinitas yang saya sebut “balada emak-emak”. Hahahaa.. feel free to laugh out loud. Saya katakan balada emak-emak karena tugas memasak dari menyiapkan bumbu, menguleknya, menyiapkan bahan masakan dan memasak akan jadi sebuah rutinitas yang terlihat sangat melelahkan but I’m kinda enjoy it. Terjaga hingga pukul 2 dini hari dan bangun pukul 4 subuh. Jika pada hari biasanya saya akan sangat mengantuk, namun untuk hari yang spesial ini, tentu saja saya akan dengan senang hati bangun dari kasur.

Semua rutinitas itu mengingatkan saya kepada maknyak yang dengan rajin dan ikhlasnya terjaga hingga larut malam dan akan bangun sangat awal. Menyiapkan dan memastikan semua masakannya sempurna (believe me, her dishes are so delicious which maybe I can compare it to chef Ramsay’s fenomenal beef wellington) dan meski anak-anak maknyak sudah beranjak dewasa, beliau tetap memperlakukan kami seperti anak-anak kecilnya. Jadi, sabar dan ikhlas itu selalu mengikuti kemanapun cinta pergi. Cinta maknyak kepada kami membuatnya menjadi our wonder woman, our master chef, our guardian angel. Begitu juga kecintaan saya kepada adik-adik saya. Oke, mereka terkadang mengesalkan dan terkadang membuat jantung saya terasa akan meledak jika melihat mereka begitu kurang bersyukur. But hey, mereka hanyalah adik-adik, mereka masih butuh waktu untuk belajar. Sama seperti saya.

“Cinta yang sejati itu dinamis dan campuran gado-gado dari tertawa terpingkal-pingkal tentang sesuatu yang tidak lucu, bertengkar hebat karena sebab yang sepele, cemburu yang berpotensi talak 47 yang tak beralasan, gemes tanpa sebab, sebel kesumat tanpa alasan, dan mabuk kangen padahal dia dekat.” – Mario Teguh –

Cinta itu pengorbanan. Ketika mencintai, seseorang telah menyetujui sebuah perjanjian kasat mata mengenai perngorbanan. Sehingga terkadang pengorbanan merupakan wujud tertinggi dari mencintai. Namun, banyak yang mungkin salah berkorban baik cara ataupun yang dikorbankan. Percayalah saya juga pernah melakukan kesalahan itu. But lets left the mistakes we did behind.

Sahabat,
Sadarkah kita bahwa setiap hari ketika kita bangun adalah kesempatan kedua yang selalu diberikan kepada kita? Entah kesempatan kedua yang sudah ke berapa, namun tetap merupakan kesempatan kedua. Kesempatan kedua untuk menjadi yang lebih baik dari hari kemarin. Lebih baik dalam melakukan pekerjaan, lebih baik dalam memperlakukan orang-orang disekitar kita dan lebih dalam mencintai orang-orang yang mengasihi kita. Saya sering menyebutkan bahwa keluarga saya adalah yang terpenting untuk saya. Sehingga, no  matter how hard life took me down, I always have reason to get up again or at least I know where I’m going to run. Yes. My family.

Sahabat,
Kabar bahagia datang dari my one and only best friend. Hahaaa. He’s become the groom and will getting married on october 12th, 2014. Percaya tidak percaya he finally meet his other half. If you ever watch Julia Robert’s movie “My Best Friend Wedding” you’ll know how I feel but not the part when she believe her best friend is in love with her. Just the sad part that she’ll no longer become the only woman he can talk to all day. Hehehee...

He’s become my best friend for 5 years. He’s already become a big  brother to me. And just like all the siblings do, we make fun to each other, mocking arround, and sometimes (a lot of time) we talk so serious about the future, the dream or maybe just an imagination of two young adults who still up at 2 am. Most of the people who saw us for the first time and never know our story will always tell that we’re the love birds. Trust me I’m feel so not flattered. Hahahaaa. I’m joking.

I love him, as the very best friend of me. I learned so much about law with him. I adore him like I adore steve jobs, he’s the smart one and for the return, I’ll become his madam mediator to all of his girl fans who has become a “victims” of kharisma cinta sang arjuna. Hahahahaaa... And tebak siapa yang akan menjadi sasaran kecemburuan para gadis itu?? Yup, me. But it’s ok. I’m kinda enjoy it. Karena entah kenapa saya belajar sesuatu dari mereka. Mengetahui sisi lain dari sahabat saya itu yang mungkin sebelumnya tidak saya ketahui.

“Love is many things, but it is never deceitful.. Because, nothing toxic comes from genuine love..”

Manis ya kata-kata diatas, tidak ada yang beracun yang berasal dari cinta yang murni.

Menurut sahabat, seperti apa sih cinta yang murni itu?
Bagi saya cinta yang murni itu hanya cinta punya orang tua ke anak. Cinta yang pengorbanan dan ketulusannya tidak akan pernah tergantikan. Saya mungkin begitu mencintai charming saya, tapi tidak bisa melebihi cinta saya kepada babhe saya. Saya mungkin begitu mencintai miss livi saya, tapi tetap akan berbeda rasanya jika mengendarainya bersama maknyak. Babhe dan maknyak adalah cinta sejati saya.

Sahabat,
Tahun ini menjadi tahun yang penuh keberkahan. Babhe, maknyak, dan nenek berkesempatan menjadi tamu Allah di baitul-Nya. Maknyak begitu bersemangat. Nenek apalagi. Beliau-beliau berkomentar sama, “rasanya seperti mimpi bisa berangkat haji”. Maknyak saya bukanlah seorang wanita dengan gelar sarjana, atau yang begitu canggih menggunakan gadget. Saya masih ingat ketika tiba di jeddah dengan polosnya maknyak saya mengirimkan sebuah sms sederhana pada pukul 11:35 PM waktu tanah air hanya untuk menanyakan,”kak, dijogja jam berapa? Disini baru selesai shalat magrib”. Saya tersenyum simpul membaca sms maknyak itu, meski sedikit mengantuk saya sempatkan membalas kalau di jogja sudah hampir tengah malam dan menjelaskan bahwa jogja dan jeddah berbeda 4 jam lebih cepat. Sesederhana itu, dan sebahagia itu. Saya berpikir bahwa itulah buah kesabaran babhe dan keikhlasan maknyak. Dan juga perjuangan almarhum kakek saya yang membesarkan babhe.

Komunikasi jogja-jeddah lumayan lancar. Meski beberapa hari sama sekali tidak ada kontak. Mama begitu antusias menceritakan perjalanan beliau. Dan tentu saja berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di holly land itu. Dan tak pernah ketinggalan mama menanyakan kabar anak-anak kesayangannya. Sebesar itu dan seindah itu cinta mama kepada kami.

Sahabat,
Tidak habis rasanya jika kita berbincang tentang cinta, pengorbanan dan ketulusan ya.. Saya bukan ahli dalam hal membicarakan hal-hal tersebut. Tapi jika hanya sekedar berbagi cerita, saya punya banyak cerita dari teman-teman saya yang tidak enggan berbagi tentang kisah mereka. Namun, dari cerita merekalah saya belajar arti mencintai, mengorbankan dan tentu saja ketulusan. Seperti cuplikan percakapan di bawah ini :

24/6/2014 00:29: CT: Nyet.. do you believe in love?

24/6/2014 00:30: LR: Yes..I believe..why??

24/6/2014 00:31: CT: What is it nyet

24/6/2014 00:32: LR: Piye ya jelasinnya ya..
24/6/2014 00:33: LR: Hhmm..kalo aku ngeliatnya dr 2 macem..dalam arti luas sama dalam arti sempit
24/6/2014 00:36: LR: Dalam arti luas tuh "love" yg ditujukan kepada siapa pun,dan semua yg ada di keseharian kita. Orang tua..temen..bahkan sampe ke tanaman,hewan atau benda mati sekali pun
24/6/2014 00:38: LR: Kalo dalam arti sempit aku ngeliatnya lebih ke interaksi antar manusia dimana ada unsur perasaan disitu. Tp itu interaksi yg ke arah positif. Untuk mencapai "love" itu butuh waktu,kesabaran,ikhlas,dll..

24/6/2014 00:38: CT: Wow
24/6/2014 00:38: CT: Subhanallah bgt si kamu
24/6/2014 00:38: CT: Dan pertanyaanku smcm random
24/6/2014 00:38: CT: Gahahahha
24/6/2014 00:38: CT: Km pernah ga ngerasain hal yg berbeda pas km ktm sm org yg km suka

24/6/2014 00:38: LR: Asemm..pdhal aku ngetiknya sambil mikir tp mata ngeliat bola..

24/6/2014 00:38: CT: Beda rasanya sm yg dulu2
24/6/2014 00:39: CT: Atau gini deh.. km prnh ngrasain cinta ga?
24/6/2014 00:39: CT: *hiyek bgt

24/6/2014 00:39: LR: Wakakakaka..pernah lah neng..bahkan sampe tahap menghilangkan logika..
24/6/2014 00:40: LR: Ngeri kan..kan..kan..

24/6/2014 00:47: CT: Ngeri bgt
24/6/2014 00:47: CT: Sama sape nyet?
24/6/2014 00:47: CT: *ngrumpik

24/6/2014 00:48: LR: Settdahh..mau dibahas neh??

24/6/2014 00:48: CT: Lha
24/6/2014 00:48: CT: Knp??

24/6/2014 00:50: LR: Yaa gpp..
24/6/2014 00:50: LR: Aku jujur2an aja yaa ceritanya..

24/6/2014 00:50: CT: Iyalaah
24/6/2014 00:50: CT: Sapa yg suru km boong kl ngmg sm aku
24/6/2014 00:50: CT: Wkwkwkwkwk

24/6/2014 00:53: LR: Waktu aku suka sm kamu. Walopun ngerasain kecewa,dll aku gak berubah dr apa yg aku rasain. Tetep "menikmati" rasa suka itu,dan dr sekitarku walopun dah bilang supaya dicukupkan dan dihentikan yaa aku tetep bablas aja..

24/6/2014 00:53: CT: Mmm oke

24/6/2014 00:54: LR: Merasa nyaman yg gak aku dapet dr orang lain,dan rasa2 lainnya itu yg bikin aku tetep bertahan.

24/6/2014 00:55: CT: Aaaa onyeeet
24/6/2014 00:55: CT: Huhuhu

24/6/2014 00:55: LR: Makin kesini aku sadar,mungkin emang itu bukan takdirku tp aku jadiin pelajaran gmn caranya mengikhlaskan,dan sabar..

24/6/2014 00:55: CT: Subhanallah
24/6/2014 00:56: CT: Ya igt aja dl km mesti ngediemin aku brapa bulan kl lg mrh
24/6/2014 00:56: CT: Ya kan

24/6/2014 00:57: LR: Iyaa diem..soalnya aku gak mau marah2 secara frontal di depan kamu. Krn aku tau,aku gak bisa kaya gtu ke kamu. Buat aku diem itu mengakomodir emosiku,tp kan akhirnya balik normal lg. Krn aku step by step untuk sabar..dan ikhlas itu td..
24/6/2014 00:59: LR: Simplenya gini deh neng..pernah gak aku ngomong sama kamu dgn nada tinggi,muka garang,atau bahkan sampe gebrak meja atau apa gtu??

24/6/2014 00:59: CT: Kagaaaa
24/6/2014 00:59: CT: Manaaa ada km kaya gt
24/6/2014 01:00: CT: Suabaaaar bgt km
24/6/2014 01:00: CT: Hehe

24/6/2014 01:01: LR: Krn aku gak bisa neng..gak bisa sampe kaya gtu..beda pas aku ngamuk2 di tim MCC sampe gebrak meja..

24/6/2014 01:01: CT: Bedaaa
24/6/2014 01:01: CT: Iyaa sih

24/6/2014 01:02: LR: Se-ngeselin2-nya kamu neng ke aku..maksimal aku diem aja..
24/6/2014 01:04: LR: Apa gara2 liat mukamu ya neng..mukamu kan melas'i..jd gak tega kalo mau marah2..
24/6/2014 01:29: LR: Ehh iya neng..ada satu lg yg belom aku ceritain td. Aku ngertiin yg kamu omongin waktu di leker dulu itu,aku paham itu. Tp kata2mu itu aku jadiin motivasiku.. jd sesulit apa pun kondisi kita,hubungan aku sama kamu harus terjaga dgn baik. Krn kita harus saling ngingetin,saling ngertiin,dan saling support.. Makasi yaa neng..

Jika dibaca sepintas percakapan itu layaknya percakapan biasa antara seorang cewek dan cowok. Tapi entah kenapa saya paham betul apa yang sedang mereka bicarakan. Pasangan diatas itu merupakan pasangan yang terjebak friendzone. Yang nggak mau merusak persahabatan yang sudah dibangun sejak lama dengan perasaan cinta yang entah mungkin belum pasti. Percaya atau tidak, ada yang dikorbankan dalam hubungan macam itu.Tapi jelas ada sebuah komitmen yang tulus disana. Trust me I knew it.

Masih banyak sebenarnya yang berkisah sama seperti itu. Atau justru ada kisah seorang pria yang sudah memiliki kekasih namun merasa kurang bahagia kemudian jatuh cinta kepada wanita lain dan saat mengetahui wanita yang dijatuh cintai juga memiliki perasaan yang sama, kemudian sang pria meninggalkan kekasihnya. Cinta itu melumpuhkan logika dan akan selalu mencari alasan pembenar untuk setiap tindakannya yang terkadang menyakiti orang lain. Saya sempat berpikir, jika sang pria itu mampu mencintai gadis lain saat dia sedang memiliki seorang kekasih, apakah dikemudian hari dia tidak akan melakukan hal yang sama? Dengan alasan yang mungkin juga bisa sama yaitu merasa tidak bahagia dengan wanitanya yang sekarang. Saya pun pernah merasakan hal seperti itu. Dan entah untuk alasan pembenar yang keberapa, saya dilumpuhkan oleh cinta tersebut.

Oke. Mari kita tinggalkan bahasan tentang masa lalu itu...

Semua yang berasal dari hati akan selalu menyentuh hati...
Pernah mendengar kalimat seperti itu? Jika pernah coba dipahami. Sebenarnya dalam kalimat itu saja sudah mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik dan yang terpenting adalah ikhlas. Melakukan sesuatu tanpa berharap akan diperlakukan sama suatu saat. Dan saya tegaskan bahwa ikhlas itu tidak bisa disangkut pautkan dengan surat Al-ikhlas yang ada dalam al-qur’an!! Surat itu tidak membicarakan tentang keikhlasan. Karena banyak dari teman-teman yang terkesima membaca kalimat yang kalau tidak salah ingat tertulis : “ikhlas itu seperti surat al-ikhlas yang tidak tersebutkan kata ikhlas.” Entah apa karena ingin terlihat shalih/shalihah sehingga tanpa memahami maksud dari surat tersebut langsung menjadikan kalimat itu sebagai jargon untuk sebuah keikhlasan.

Posting kali ini cukup panjang. Dan saya memberikan titel pengorbanan, cinta dan ketulusan. Karena selain saya masih belajar untuk melakukan ketiga hal tersebut, semua yang saya sebutkan itu saling berkaitan. Cinta yang tulus akan selalu meminta pengorbanan. Pengorbanan dalam berbagai bentuk. Dan sampai akhirnya pengorbanan itu akan berubah menjadi sebuah kewajiban yang membahagiakan.

Siapa pun yang berupaya membahagiakan orang yang dicintainya akan menjadi mampu. Bukan karena dia kuat dan memiliki wewenang, tapi karena Tuhan memampukan orang-orang yang mendahulukan kebahagiaan orang lain. Dia yang mengutamakan kebahagiaan keluarga dan sahabat, sesungguhnya telah menyerahkan peran pembahagiaan dirinya kepada Tuhan. Dan itulah ikhlas...

P.S. History chat diatas itu milik seorang teman yang sudah saya anggap adik saya sendiri dan dia sendiri yang megirimkan kepada saya via email. Dia juga sudah setuju chat-nya itu dipublish. Ada beberapa yang saya hapus karena berisi emoticon yang tidak terbaca di blog ini.

P.S.S. Blog ini saya tulis dengan kombinasi lagu-lagu di playlist netbuk saya. Tapi lagu yang pas bisa coba baca blog ini dengan backsound Key To My Heart by Jessica Jarrell.

Kamis, 31 Juli 2014

INSIDE STORY (Beauty And The Blessed)


“Tidak mungkin orang yang disakiti hatinya tidak dihadiahi kebaikan, dan orang yang melukainya tidak dirugikan.”

Dear friends,

Sebelumnya Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Maaf jika ada kata-kata dan beberapa postingan saya yang mungkin banyak menyakiti hati teman-teman pembaca.



Sengaja posting kali ini saya beri tag inside story, karena postingan ini merupakan untold story di dalam untold stories series saya. Saya menulis postingan kali ini tepat di hari lahir prince charming saya, mechanical engineer saya dan insya Allah my future husband.



Sudah sejak saya akan berangkat dari jogja kembali ke kampung halaman saya ini, dia (charming saya) sangat bersemangat untuk segera bertemu, yaa 5 tahun kebersamaan kami dan hanya sesekali bertemu dengan rentang waktu yang sangat sedikit membuat dia begitu tidak sabar bertemu saya (entah beneran atau gombalan. Hahaaa..) Break fasting together with my family, cooking his meal for sahur (of course i cooked after iftar guys. Don’t think negative things. ;) ) membuat kami dekat baik jarak, waktu ataupu perasaan. Still wondering why? Then, we realized its just the matter of time. After all, waktulah yang akan menentukkan. Kebersamaan kami yang entah sudah berapa pertengkaran dan berapa perbaikan, kami masih disini, masih percaya dan yakin we’ve born for each other (insya Allah).

“When I first saw you, I saw love. And the first time you touched me, I felt love. And after all this time, you're still the one I love. Looks like we made it. Look how far we've come my baby. We might took the long way. We knew we'd get there someday. They said, "I bet they'll never make it" But just look at us holding on,, we're still together still going strong....”

–Shania Twain on You’re Still The One–

Lagu tante shania itu sepertinya cukup untuk mendeskripsikan hubungan kami (saya dan charming). Berat di awal kami menjalin hubungan. Fitnahan yang tidak henti, gangguan para mantan (yang sampai sekarang belum juga berhenti) dan beberapa sindiran yang saya artikan doa kebaikan dari teman-teman seusia saya yang sudah begitu berani menikah juga doa tulus dari maknyak dan babhe. Kami mendewasa dalam kebersamaan kami, belajar menjadi lebih baik, dan itu terlihat dalam diri charming yang semakin membuktikan kepada saya bahwa dia pun bisa seperti pria lainnya yang begitu mencintai wanitanya (tentu dengan cara yang hanya charming yang bisa). Mungkin sahabat bertanya kenapa saya menyebutnya dengan sebutan charming. I’ve told you i’m a hopeless romantic person yang tergila-gila dengan khayalan anak kecil tentang pangeran tampan berkuda putih. Charming saya bukan putra seorang raja, hanya saja dia memang charming untuk saya (atau paling tidak saya menganggapnya sebagai prince charming saya).



Saya mengaguminya. Dia memang bukan orang baik jika sahabat mencoba menelusuri masa lalunya (begitu yang selalu disebutkannya ketika saya mulai gundah tentang hubungan atau lebih tepatnya perasaan saya tentang hubungan kami) namun seperti yin dan yang, dia juga selalu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia memang bukan orang baik tapi akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Dia memang bukan seorang ahli agama yang akan jadi imam shalat berjamaah dengan bacaan surat yang panjang tapi insya Allah dia bisa jadi imam untuk saya meski bacaan suratnya hanya surat-surat dalam juz ‘ama.



Saya mengaguminya. Dengan caranya merawat mendiang ibunya dulu, merawat kakak dan adiknya. Saya melihat jiwa seorang suami dan ayah yang baik dalam dirinya. Karena mama pernah bilang : “jika ingin tahu seseorang itu mencintai dirimu atau tidak, lihat bagaimana dia mencintai orang tuanya. Dan jika ingin tahu apakah seseorang itu kelak akan mencintai anak-anakmu, lihat bagaimana dia memperlakukan kakak atau adiknya”. Saya juga bukan wanita yang begitu sholehah, saya masih belajar dan akan terus begitu. Sempat berfikir, mungkin suatu saat di masa lalu saya telah melakukan hal yang menurut Tuhan itu baik hingga Tuhan memberikan saya seorang charming yang menurut saya begitu betah dengan saya (trust me is not easy to loving me). Saya pernah menulis di postingan sebelumnya bahwa awal kami bertemu setelah sekian lama adalah ketika Ramadhan 2009. Sejak saat itu sungguh setelah kesulitan akan datang kemudahan benar-benar terbukti bagi saya.



Saya mengaguminya. Dengan kesederhanaan dan dengan apa adanya dia. Dengan cara mencintainya yang sungguh diluar harapan saya. Saya menyesuaikan diri dengannya yang kadang-kadang justru menyesuaikan dirinya dengan saya. Dia seolah tahu saya juga ingin seperti wanita pada umumnya yang berharap prianya begitu romantis. Yaa, saya tidak memungkirinya. Tapi saya tidak ingin memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukannya. Dia adalah pria romantis saya. Dengan cara romantis yang memang hanya dia yang punya. Seolah itu adalah trade mark-nya. Dengannya, saya menghargai dan mensyukuri hal-hal kecil yang mungkin sebelumnya tidak saya syukuri. Dengannya, saya belajar menghargai perbuatan-perbuatan kecil yang begitu membahagiakan saya. Dengannya, semua selalu baik-baik saja seolah sakit yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak suka melihat kebahagiaan kami tidak pernah ada wujudnya. Dengannya, meski kadang-kadang menyesakkan hati, tapi selalu ada bahagia diujung hari. Dan dengannya, insya Allah surga itu dekat dan berkah.



Saya mengaguminya. Dengan wajah tampan yang sangat charming. Tapi bagi saya itu hanya bonus. Bagian terdalam hatinya juga sangat tampan meski tertutupi oleh sikap temperamen dan mudah marahnya. Dan hanya saya yang tahu dia begitu baik untuk saya. Tidak seperti yang diperlihatkannya pada sebagian besar orang yang mengenalnya.



“Doa diulangi bukan karena Tuhan perlu diingatkan. Tapi sebagai pengingat agar kita memantaskan diri untuk doa tersebut.”



Saya tidak pernah lupa menyebut namanya dalam setiap doa saya. Tentu saja setelah babhe dan maknyak. Kata orang begitulah cara 2 orang berkomunikasi ketika jauh. Mengingat saya dan charming memang LDR dengan zona waktu yang berbeda 2 jam, maka begitulah saya terkadang menumpahkan sesaknya perasaan rindu padanya. Bercerita dengan begitu sedih kepada Sang Maha Cinta yang telah dengan “semena-mena” menyisipkan perasaan bernama rindu itu dalam hati saya. Tidak mudah bertahan 5 tahun dalam hubungan jarak jauh. Tapi entah mengapa kami betah-betah saja. Tentu saja tidak selalu baik-baik saja. Masalah jelas ada meski hanya itu-itu saja, tapi we’re here right now. Still together..



Saya yakin Allah tidak akan pernah bosan mendengarkan doa saya yang selalu itu-itu saja atau seputar itu-itu saja. Saya hanya menginginkan itu-itu saja. Tidak ada yang lain. Selebihnya hanya rasa syukur dan terberkati.

“Jiwa yang indah memberi tanpa mengharapkan kembali, dan tak pernah melupakan kebaikan yang pernah diterimanya.”

Mungkin begitulah saya dan charming menjalani hubungan yang sudah berlangsung selama 5 tahun. Memberikan yang terbaik tanpa berharap apa-apa. Hanya berharap kebahagiaan dan kebaikan bersama. Dengan begitu tidak akan ada yang merasa lebih mencintai atau sebaliknya. Sebab yang saya yakini cinta tidak seperti itu. Bukan cinta seperti itu yang saya inginkan. Dan bukan tipe cinta seperti itu yang diajarkan orang tua saya.



Kami masih berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain. Meski kami begitu bertolak belakang, tetapi kami punya tujuan yang sama. Meski kami tidak selalu berjalan beriringan, saya tahu dia akan menunggu saya bila dia tiba ditempat tujuan lebih dulu, atau saya yang akan menunggunya bila saya tiba lebih dulu. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kami mendewasa dengan begitu banyak masalah yang datang pada kami. Mencoba menghadapinya dengan bijaksana. Belajar bersabar di setiap cercaan, dan berlapang dada ketika pertanyaan “kapan menikah?” mulai terlalu sering kami dengar. Let us take it slow. Pernikahan itu ibadah yang upacaranya dilakukan sekali seumur hidup dengan pengertian sekali akad yang pelaksanaannya adalah seumur hidup. Masih banyak yang harus dipersiapkan. Saya sering sharing dengan kakak cantik saya yang selalu mengingatkan bahwa pernikahan haruslah dilakukan bukan hanya sekedar cinta, sebab cinta tak akan selamanya ada. Jangan menikah hanya karena didesak usia sebab usia itu waktu yang pasti. Tapi menikahlah dengan alasan bahwa dengan menikah segala kebaikan akan bernilai ibadah dan bernilai berlipat ganda.



Saya bukan tidak bisa hidup susah, hanya saja charming berpendapat bahwa ketika dia sudah berani meminta saya dari babhe, maka lepaslah 1 tanggung jawab babhe kepada saya dan berpindah kepadanya. Dia bertanggung jawab atas kebahagiaan saya dan terlebih dia harus bisa lebih membahagiakan saya daripada babhe.



Last but not least, hingga postingan ini saya upload saya sedang chatting via BBM dengannya. Menikmati sisa waktu hari ini sebelum terlelap dengan hati yang penuh harapan kebaikan akan segera terwujud. We feel beautiful with this relationship, and feeling blessed with the distance.

“Real love is not based on romance, candle light dinner and/or walks along the beach. In fact it’s based on respect, care and trust.”


P.S. Today on July, 31, my charming turn 26 years old.