“Banyak orang di luar sana yang lebih baik dari pasanganmu, lalu kamu ragu. Kamu berpikir kamu bisa mendapatkan yang lebih baik. Kamu lupa, banyak orang yang lebih baik dari kamu, tapi dia tetap memilih kamu. Mulailah belajar memperbaiki, bukan mengganti.”
Dear beloved friends,
It’s been a while since my last
post. Still strugling with crazy things called love. Hahaa :)
Beberapa minggu terakhir saya menjadi psikiater dadakan untuk seseorang
yang tidak boleh saya sebutkan namanya karena terkait kode etik (belagu ini sih
judulnya). Dia bercerita kalau seorang pria sebut saja boy telah
meninggalkannya demi seorang wanita yang dikatakannya jauh lebih asik dari
“pasien” saya ini. Dalam hati saya sempat berpikir bahwa memang semua orang
berhak untuk berbahagia tapi tidak dengan cara berselingkuh dan membandingkan
apa yang sudah kita miliki dengan yang belum kita miliki. Kita tidak bisa
membandingkan sebuah mobil bermerk Ferrari dengan mobil bermerk honda. Saya
punya nissan livina, meski tidak semahal bentley tapi saya membuat suasana
livina saya itu seperti bentley, berkhayal saya sedang menyetir sebuah bentley.
Hahaha kinda silly but its make me realize that bahagia itu bukan tentang
memiliki semua yang kita inginkan, tapi mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
“Bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau
yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pernah pergi”
Hehehee dalam sekali yah kalimat diatas itu. Saya mungkin pernah bercerita
tentang hubungan saya yang sungguh luar biasa syahdu sekali. LDR (Long Distance
Relationship) sejak 2009, dan sempat break 2 bulan hingga akhirnya kami kembali
bersama lagi. Kata temen saya cocok dijadikan naskah sinetron. ;)
“Ketika tulus mencinta,
kamu tidak akan menyerah. Kamu mungkin lelah tapi kamu tetap berusaha. Karena
cinta selalu temukan cara.”
Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang saya dan
charming lewati. Mencoba bertahan dengan hubungan jarak jauh selama kurang
lebih 5 tahun. Meski sering diterpa badai, tapi kita masih disini, sempat
terpisah karena ego tapi akhirnya kembali dititik yang sama.
LDR itu berat kalau yang dilihat hanya yang beratnya. Jujur saja awalnya saya juga merasa tidak akan bisa bertahan hingga sekarang. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan di postingan saya sebelumnya, jodoh itu kita yang menjadikan. Kita memilih seseorang dan Tuhan yang merestui. Meski sempat break dan ada orang lain, pada akhirnya charming memutuskan untuk menghabiskan hidupnya bersama saya. Heheee ;)
Banyak hal yang baru saya sadari ketika menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Berbicara tentang semua hal yang dulu tidak sempat kami bicarakan. Menanyakan alasan dari semua tindakan konyol yang pernah kami lakukan dan begitu terkejutnya kami ketika tahu bahwa ternyata kami sudah bangun cinta, sudah tidak mabuk cinta lagi. Itu saya rasakan ketika saya mulai percaya padanya dengan tidak mengutak-atik atau stalking sosial media miliknya, membaca pesan di handphone-nya atau bahkan memiliki pikiran sedang apa dia ketika jauh dari saya. Charming saya juga ternyata hanya pria biasa, yang bisa cemburu tapi hanya bisa diam saja. How lucky I am?
"Pada awalnya, semua orang bangga dengan pilihannya. Tapi pada akhirnya, tidak semua orang setia dengan pilihannya saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti yang diimpikan. Karena yang tersulit bukanlah memilih tapi bertahan pada pilihan."
Memulai kembali itu tidak mudah. Apalagi setelah begitu banyak kejadian yang sungguh diluar dugaan. Tetapi waktu dan masalah mendewasakan. Cara berpikir yang tidak hanya dari dua sisi tapi berbagai sisi. Usia juga menjadi pengaruh. Dan pada akhirnya tidak hanya bisa berdamai dengan jarak yang akan semakin jauh, tetapi juga berdamai dengan segala pikiran buruk yang tidak akan pernah habis. We're trying our best, and let Allah do the rest.
BECAUSE LOVE WILL FIND A WAY..
