Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Senin, 10 Maret 2014

UNTOLD STORIES 9 (When You Love Someone)


“Banyak orang di luar sana yang lebih baik dari pasanganmu, lalu kamu ragu. Kamu berpikir kamu bisa mendapatkan yang lebih baik. Kamu lupa, banyak orang yang lebih baik dari kamu, tapi dia tetap memilih kamu. Mulailah belajar memperbaiki, bukan mengganti.”


Dear beloved friends,

It’s been a while since  my last post. Still strugling with crazy things called love. Hahaa :)



Beberapa minggu terakhir saya menjadi psikiater dadakan untuk seseorang yang tidak boleh saya sebutkan namanya karena terkait kode etik (belagu ini sih judulnya). Dia bercerita kalau seorang pria sebut saja boy telah meninggalkannya demi seorang wanita yang dikatakannya jauh lebih asik dari “pasien” saya ini. Dalam hati saya sempat berpikir bahwa memang semua orang berhak untuk berbahagia tapi tidak dengan cara berselingkuh dan membandingkan apa yang sudah kita miliki dengan yang belum kita miliki. Kita tidak bisa membandingkan sebuah mobil bermerk Ferrari dengan mobil bermerk honda. Saya punya nissan livina, meski tidak semahal bentley tapi saya membuat suasana livina saya itu seperti bentley, berkhayal saya sedang menyetir sebuah bentley. Hahaha kinda silly but its make me realize that bahagia itu bukan tentang memiliki semua yang kita inginkan, tapi mensyukuri apa yang sudah kita miliki.


Dia bercerita banyak hal, sakit hatinya, kecewanya, begitu bencinya, hingga perasaan yang selalu menyalahkan dirinya sendiri. And believe me I know that feelings. Saya pernah berada di posisinya juga, merasa apa yang kurang dengan diri saya sehingga dia lebih memilih orang lain itu. Hingga pada satu waktu saya membaca sebuah buku berjudul “Its called broke-up cos its broken”. Dari buku itu saya belajar banyak. Dan sadar bahwa seburuk dan sekurang apapun saya, saya berhak untuk berbahagia dengan cara saya. Saya bukan sarjana psikologi atau ilmu kejiwaan lainnya. Saya hanya sedang belajar untuk mengingatkan diri saya sendiri. Belajar dari setiap cerita yang mereka ucapkan pada saya. Tidak mudah memang untuk menerima kenyataan, tapi inilah masa muda, kita tidak akan punya apa-apa atau tidak akan belajar apa-apa jika hidup kita datar dan mulus-mulus saja.


“Bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pernah pergi”


Hehehee dalam sekali yah kalimat diatas itu. Saya mungkin pernah bercerita tentang hubungan saya yang sungguh luar biasa syahdu sekali. LDR (Long Distance Relationship) sejak 2009, dan sempat break 2 bulan hingga akhirnya kami kembali bersama lagi. Kata temen saya cocok dijadikan naskah sinetron. ;)


Semua akan indah pada waktunya. Jodoh itu sudah ada yang mengatur. Tapi kita juga tetap harus mengusahakan. Itu yang selalu saya katakan pada “pasien” saya ini. Sakit hati, kecewa, marah itu manusiawi dan sangat normal. Gimana sih perasaan sahabat kalau orang yang kita anggap tidak akan selingkuh justru bisa bertingkah sangat keji? Dan sayangnya si boy itu justru menjadikan “pasien” saya alasan dia mundur karena menurutnya dia tidak sanggup membahagiakan “pasien” saya. Come one, nenek-nenek pake moge juga tahu itu cuma alasan pengecut yang bernilai rendah untuk ninggalin orang yang katanya dicintainya itu. Tapi, saya juga tidak menyalahkan si boy itu, dia juga punya hak yang sama untuk berbahagia, mungkin caranya aja yang salah. Dan bagaimana pun juga, cinta itu menyembuhkan, cinta itu membahagiakan, jika tidak, maka itu bukan cinta tapi ilusi berkedok cinta.

“Ketika tulus mencinta, kamu tidak akan menyerah. Kamu mungkin lelah tapi kamu tetap berusaha. Karena cinta selalu temukan cara.”


Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang saya dan charming lewati. Mencoba bertahan dengan hubungan jarak jauh selama kurang lebih 5 tahun. Meski sering diterpa badai, tapi kita masih disini, sempat terpisah karena ego tapi akhirnya kembali dititik yang sama.


Mari kita jujur-jujuran saja. LDR itu susah, berat, isinya cuma curiga, gak percayaan, salah paham berantem gak jelas, dan yang utama berat diongkos. Yaa, kalau mau dilihat kurangnya masih banyak yang bisa ditulis. Tapi, waktu mendewasakan setiap individu yang mau berdamai dengan kehidupan. Begitu juga dengan saya dan charming. Kami mencoba berdamai dengan jarak yang lumayan jauh, berdamai dengan rindu yang semakin lama justru semakin menyiksa, berdamai dengan keypad smartphone yang entah sudah berapa juta kata menjadi percakapan rutin, berdamai dengan perasaan curiga yang semakin hari bisa semakin menipis. Mungkin faktor usia atau mungkin kami sudah lelah mencari apa yang tidak ada, dan mungkin kami sudah percaya bahwa we find our soulmate. Love of our lives. 

LDR itu berat kalau yang dilihat hanya yang beratnya. Jujur saja awalnya saya juga merasa tidak akan bisa bertahan hingga sekarang. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan di postingan saya sebelumnya, jodoh itu kita yang menjadikan. Kita memilih seseorang dan Tuhan yang merestui. Meski sempat break dan ada orang lain, pada akhirnya charming memutuskan untuk menghabiskan hidupnya bersama saya. Heheee ;)

Banyak hal yang baru saya sadari ketika menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Berbicara tentang semua hal yang dulu tidak sempat kami bicarakan. Menanyakan alasan dari semua tindakan konyol yang pernah kami lakukan dan begitu terkejutnya kami ketika tahu bahwa ternyata kami sudah bangun cinta, sudah tidak mabuk cinta lagi. Itu saya rasakan ketika saya mulai percaya padanya dengan tidak mengutak-atik atau stalking sosial media miliknya, membaca pesan di handphone-nya atau bahkan memiliki pikiran sedang apa dia ketika jauh dari saya. Charming saya juga ternyata hanya pria biasa, yang bisa cemburu tapi hanya bisa diam saja. How lucky I am?


"Pada awalnya, semua orang bangga dengan pilihannya. Tapi pada akhirnya, tidak semua orang setia dengan pilihannya saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti yang diimpikan. Karena yang tersulit bukanlah memilih tapi bertahan pada pilihan."

Memulai kembali itu tidak mudah. Apalagi setelah begitu banyak kejadian yang sungguh diluar dugaan. Tetapi waktu dan masalah mendewasakan. Cara berpikir yang tidak hanya dari dua sisi tapi berbagai sisi. Usia juga menjadi pengaruh. Dan pada akhirnya tidak hanya bisa berdamai dengan jarak yang akan semakin jauh, tetapi juga berdamai dengan segala pikiran buruk yang tidak akan pernah habis. We're trying our best, and let Allah do the rest.





BECAUSE LOVE WILL FIND A WAY..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar