“Listen to your elders advice. Not because they’re
always right, but because they have more
experience of being wrong.”
Dear readers,
Its been such a time since my last posts. Its sunny today
(when I write this post). Long weekend ahead too.
Sahabat, pernahkah merasa bahwa apa yang sudah kita
usahakan dan kita impikan justru tidak terwujud? Atau pernahkah kita berpikir
bahwa apa yang kita yakini akan terjadi justru berlaku sebaliknya? I’m kinda
feeling down when I find out that the advocate license doesn’t not belong to
me. It was on 3 am in the morning, a friend told me he feel sorry cause he
didn’t find my name on the lists. I congrate him and feel sorry to myself. I
text my mom and tell her I didn’t make it. So, I cried. For the first time I
cried over my failure. My mom console me, cheering me up, encourage me. And I
think “yeea typical mother”.
I feel sorry for my self for 3 days. Its been such a
mourning morning everyday when I woke up. Every time my dad calling, I reject
it. There’s something in my heart that say, you can do better than this. And
you fail on second try? Really? You such a fool girl. I always ask my self “why
you can fail on something you mastered of? Why you can’t make it through on
something you do everyday you go to work?”. Masih sering berfikir kenapa hal
buruk selalu terjadi kepada orang baik? Yaa, saya memang bukan orang baik tapi
saya tidak pernah merugikan siapa-siapa. Kadang masih sering merasa why could
this happened to me? And I tell you its feel so worst. The worst feeling I ever
had. Feel like its not fair. Tapi, mau nangis-nangis sampe guling-guling, mau
protes kayak apa juga tetep aja gak bisa merubah hasil. So, I put myself
together. Try to be strong. Try to be like nothing happened, its ok, its just
not my luck.
“Apa yang sedang kita usahakan, kebaikan apa yang sudah
kita lakukan, keburukan apa yang sudah kita sembunyikan, atau apa yang akan
terjadi untuk kita itu Allah sudah tahu nak, Allah itu tidak pernah salah.
Semua sudah diatur. Jangan kecil hati, rejeki itu tidak tertukar. Jangan putus
asa, tidak boleh sedih karena gagal, bapak tidak suka begitu. Jangan seperti
orang yang tidak punya iman nak, percaya saja Allah selalu punya rencana yang
paling baik.” –Babhe-
So, here I am. Still wondering why I fail but strong
enough to let go that the license doesn’t belong to me. I am the big sister,
I’m the one who let my brothers and sister see the best of me, the strongest of
me, the funniest of me and the caring of me.
Untuk sekejap kecewa itu ada, putus asa jelas. Hey! I’m
only human. Manusiawi sekali kalau sempat sedih dan kecewa. But I’m old enough
to feel secure, to feel strong even when life beat me up. I am the big sister,
by big i mean strong enough to let my heart and mind open when something I
planned just not happened in the right time on my own. Mungkin memang bukan
rejeki saya. Mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar untuk
saya yang berkemampuan tidak sama dengan orang lain.
Saya tidak dididik oleh orang tua saya untuk cepat menyerah.
Dipostingan saya sebelumnya sudah saya ceritakan perjalanan saya hingga ada di
posisi saya sekarang. Bukan tidak mungkin jika saya sedang diuji lagi. Allah
test everyone He loves. And I believe it.
“Wanita itu tulang rusuk jadi jangan dijadikan tulang
punggung”. –Mario Teguh-
Untuk sesaat kalimat diatas itu tidak saya setujui jika
melihat apa yang sedang dan selalu dilakukan maknyak. Tapi, setelah saya
konfirmasikan maknyak bilang mama bingung kalau tidak ada kerjaan dirumah.
Maknyak bilangkalau hanya mengandalkan gaji PNS babhe, mana bisa buat biayain
kuliah anak 4? Well, that’s so true. Tidak menyalahkan pemerintah juga sih
secara rakyat Indonesia nih begini banyaknya dan banyak yang mau dihidupin.
Hehee.
Saya juga akhirnya menggunakan kalimat itu untuk
menghibur diri sendiri. Menyibukkan diri dengan kerjaan kantor yang yaah bisa
dibilang sudah tidak banyak dilimpahkan kepada saya. Sadar diri aja sih
sebenernya. Hahaaa. But, its not the end of my dream. Masih banyak impian yang menunggu untuk diwujudkan.
Just wanna enjoy every single time to doing thing I love most.
Call me workaholic, or another word describe my craziness
to be involved on a case. Tapi saya mencintai apa yang sedang saya lakukan,
bukan sekedar mencari prestige atau numpang tenar. Bos saya selain seorang atasan
juga seorang pendidik dan sikap kharismatik yang begitu down to earth membuat
saya sangat kagum bahkan sejak masih kuliah. Dengan meng-handle beberapa kasus,
saya belajar untuk melihat sebuah permasalahan bukan hanya dari dua sisi tetapi
dari berbagai sisi, melihat alasan dibalik setiap persoalan dan sebab dari
setiap perbuatan. Dan kalau melihat semua itu seperti mendapat sebuah
pembelajaran baru. Bahwa semua yang kita lakukan akan berakibat baik langsung
maupun tidak langsung dengan orang lain.
“Dunia ini akan damai jika orang yang berpikiran tertutup
tidak dengan mudah membuka mulutnya.”
Saya tertawa membaca kalimat yang ditulis om Mario itu.
Dan berpikir berapa banyak orang yang sadar bahwa kata-kata itu begitu benar.
Saat sedang menulis posting ini saya sedang didaulat bersama rekan-rekan yang
lain menjadi Tim Advokasi sebuah partai. Dan yang uniknya mereka semua pria.
Bertemu dengan beberapa karakter baru. Belajar dalam diam dan mencoba membaca
tipe orang seperti apa mereka. Dan pada akhirnya tetap saja, di dunia ini hanya
ada dua tipe manusia, yag baik dan yang buruk. Entah dia muslim, nasrani,
jewis, budha, hindu, sinto, atheis, kapitalis, liberal atau tipe lainnya. Hanya
itu saja yang bisa membedakan mereka (bagi saya). Karena di negara ini saja
sudah begitu majemuk apalagi jika harus dibandingkan dengan negara
internasional? Waah, berat sekali bahasa saya. :p
Saya sering menulis : “Tuhan memberikan kita dua telinga
dan satu mulut dengan tujuan agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara”.
Dan itu benar-benar sesuai, apalagi dibidang pekerjaan saya. Dan saya juga
menerapkan itu dikehidupan saya di luar kantor. Saya suka mendengar.. dan suka
berbicara juga. Hehehe satu hal yang tidak akan bisa diambil dari saya. Saya
belajar banyak dengan mendengarkan cerita-cerita orang lain. Entah itu sebuah
cerita bahagia atau sedih atau bahkan menguping dokter gigi muda bergosip di
toilet saat sedang bersiap untuk dhuhuran.
Saya bukan orang yang sempurna. Saya juga bukan seseorang
yang begitu alim dan pandai dalam agama yang saya anut. Yang saya yakini adalah
agama saya mengajarkan kebaikan, untuk siapa saja. Dan saya rasa itu sudah
cukup membuat saya merasa saya cukup baik. Saya sedang dan masih akan terus
belajar menjadi versi terbaik dari diri saya.
“Love is an unconditional commitment to an imperfect
person. To love somebody isn’t just strong feeling. It’s a decision, a
judgement and a promise.”
Saya dan charming sedang mempersiapkan the “W” word. Kata
orang-orang dulu jangan takabur nyebut-nyebut the “W” word itu, pamali katanya.
Bukan hanya sekedar usia atau permintaan orang tua tapi kami merasa perasaan
“C” ini tidak hanya sekedar ungkapan yang muncul dengan gombalnya atau hanya
akan berputar-putar dalam tahapan pacaran saja.
Dan ternyata membayangkan persiapannya saja sudah membuat
saya migrain berkali-kali. -__-“ Tidak hanya itu memikirkan berapa biaya yang
harus dihabiskan juga membuat saya sesak nafas. Hahaaa. Its a wonderful time of
everyone’s life yet dizzy feeling.
Alasan saya sebenarnya bukan karena takut, hanya saja
saya belum puas jadi anak babhe saya. Saya masih ingin bermanja-manja pada
babhe. Merasakan betapa nyamannya pelukan babhe. Masih teringat sangat jelas
bayangan masa lalu yang meski tidak semewah sekarang, babhe selalu berbagi
kebahagiaan, tidak pernah menunjukkan kelelahannya bekerja. Saya masih bisa
merasakan pelukan babhe saat menggendong saya ketika sakit waktu itu. Saya juga
masih ingat sore ketika babhe menemani saya foto untuk buku rapor Sekolah
Dasar. Saya masih ingat dengan sisir kecil berwarna coklat mudanya babhe
merapikan rambut saya ketika akan difoto. Saya masih ingat wajah babhe yang
terlalu banyak hazeline white saat masuk ke kelas saya mengantarkan naskah
pidato tugas pelajaran Bahasa Indonesia saya yang belum selesai saya buat. Saya
ingat wajah tirus babhe saat menjemput kami di pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya, ada cemas dan khawatir yang sirna saat saya berteriak memanggil babhe
saya itu. Saya juga masih ingat betapa sumringahnya wajah babhe saat mengantarkan
saya make-up wisuda pukul 4 pagi. Dan di balik semua kelelahannya tersimpan
sebuah kebanggan besarnya pada saya. Beliau sudah kehilangan jagoannya dan
tidak ingin kehilangan tuan putri terhebatnya. Dari semua yang dilakukan babhe
saya itu, saya masih merasa akankah saya diperlakukan sama seperti itu oleh
orang yang akan meminta saya dari babhe saya? Akankah saya selalu menjadi
prioritas orang yang akan mengganti nama belakang saya? Atau apakah saya bisa
merasakan lagi sebuah pelukan yang akan mendamaikan saya ketika saya merasa
begitu terpuruk?
On his call babhe bilang babhe bukan berhenti perhatian
sama kakak, tapi bapak percaya kakak lebih kuat daripada adik-adik. Kakak
dibesarkan dalam keadaan yang serba sulit dan kekurangan. Kalimat itu begitu
mengejutkan ketika saya komplain kenapa hanya adik-adik saya saja yang harus
diperhatikan. Dan itu menyadarkan saya bahwa kesabaran babhe, keikhlasan mama,
membuat saya menjadi seperti sekarang. So, can you imagine how scare I am to
get to the “W” word after all of those things my babhe gave to me?
“I am happy today. Not because I have much, not because I
have no struggles, and not because I have it all together. But because I choose
to see the blessings in my life in the here and the now. Because sometimes you
have to face your past not to continue what you left off, but simply make you
realize how happy and satisfied you are in the present.”