“Tidak mungkin orang yang disakiti hatinya tidak dihadiahi kebaikan, dan
orang yang melukainya tidak dirugikan.”
Dear friends,
Sebelumnya Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Maaf jika
ada kata-kata dan beberapa postingan saya yang mungkin banyak menyakiti hati
teman-teman pembaca.
Sengaja posting kali ini saya beri tag inside story, karena postingan ini
merupakan untold story di dalam untold stories series saya. Saya menulis
postingan kali ini tepat di hari lahir prince charming saya, mechanical
engineer saya dan insya Allah my future husband.
Sudah sejak saya akan berangkat dari jogja kembali ke kampung halaman saya
ini, dia (charming saya) sangat bersemangat untuk segera bertemu, yaa 5 tahun
kebersamaan kami dan hanya sesekali bertemu dengan rentang waktu yang sangat
sedikit membuat dia begitu tidak sabar bertemu saya (entah beneran atau
gombalan. Hahaaa..) Break fasting together with my family, cooking his meal for
sahur (of course i cooked after iftar guys. Don’t think negative things. ;) )
membuat kami dekat baik jarak, waktu ataupu perasaan. Still wondering why?
Then, we realized its just the matter of time. After all, waktulah yang akan
menentukkan. Kebersamaan kami yang entah sudah berapa pertengkaran dan berapa
perbaikan, kami masih disini, masih percaya dan yakin we’ve born for each other
(insya Allah).
“When I first saw you, I saw love. And the first time you touched me, I
felt love. And after all this time, you're still the one I love. Looks like we
made it. Look how far we've come my baby. We might took the long way. We knew
we'd get there someday. They said, "I bet they'll never make it" But
just look at us holding on,, we're still together still going strong....”
–Shania Twain on You’re Still The One–
Lagu tante shania itu sepertinya cukup untuk mendeskripsikan hubungan kami
(saya dan charming). Berat di awal kami menjalin hubungan. Fitnahan yang tidak
henti, gangguan para mantan (yang sampai sekarang belum juga berhenti) dan
beberapa sindiran yang saya artikan doa kebaikan dari teman-teman seusia saya
yang sudah begitu berani menikah juga doa tulus dari maknyak dan babhe. Kami
mendewasa dalam kebersamaan kami, belajar menjadi lebih baik, dan itu terlihat
dalam diri charming yang semakin membuktikan kepada saya bahwa dia pun bisa
seperti pria lainnya yang begitu mencintai wanitanya (tentu dengan cara yang
hanya charming yang bisa). Mungkin sahabat bertanya kenapa saya menyebutnya
dengan sebutan charming. I’ve told you i’m a hopeless romantic person yang
tergila-gila dengan khayalan anak kecil tentang pangeran tampan berkuda putih.
Charming saya bukan putra seorang raja, hanya saja dia memang charming untuk
saya (atau paling tidak saya menganggapnya sebagai prince charming saya).
Saya mengaguminya. Dia memang bukan orang baik jika sahabat mencoba
menelusuri masa lalunya (begitu yang selalu disebutkannya ketika saya mulai
gundah tentang hubungan atau lebih tepatnya perasaan saya tentang hubungan
kami) namun seperti yin dan yang, dia juga selalu meyakinkan saya bahwa semua
akan baik-baik saja. Dia memang bukan orang baik tapi akan selalu berusaha
menjadi lebih baik. Dia memang bukan seorang ahli agama yang akan jadi imam
shalat berjamaah dengan bacaan surat yang panjang tapi insya Allah dia bisa
jadi imam untuk saya meski bacaan suratnya hanya surat-surat dalam juz ‘ama.
Saya mengaguminya. Dengan caranya merawat mendiang ibunya dulu, merawat
kakak dan adiknya. Saya melihat jiwa seorang suami dan ayah yang baik dalam
dirinya. Karena mama pernah bilang : “jika ingin tahu seseorang itu mencintai
dirimu atau tidak, lihat bagaimana dia mencintai orang tuanya. Dan jika ingin
tahu apakah seseorang itu kelak akan mencintai anak-anakmu, lihat bagaimana dia
memperlakukan kakak atau adiknya”. Saya juga bukan wanita yang begitu sholehah,
saya masih belajar dan akan terus begitu. Sempat berfikir, mungkin suatu saat
di masa lalu saya telah melakukan hal yang menurut Tuhan itu baik hingga Tuhan
memberikan saya seorang charming yang menurut saya begitu betah dengan saya
(trust me is not easy to loving me). Saya pernah menulis di postingan
sebelumnya bahwa awal kami bertemu setelah sekian lama adalah ketika Ramadhan
2009. Sejak saat itu sungguh setelah kesulitan akan datang kemudahan
benar-benar terbukti bagi saya.
Saya mengaguminya. Dengan kesederhanaan dan dengan apa adanya dia. Dengan
cara mencintainya yang sungguh diluar harapan saya. Saya menyesuaikan diri
dengannya yang kadang-kadang justru menyesuaikan dirinya dengan saya. Dia
seolah tahu saya juga ingin seperti wanita pada umumnya yang berharap prianya
begitu romantis. Yaa, saya tidak memungkirinya. Tapi saya tidak ingin
memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukannya. Dia adalah pria
romantis saya. Dengan cara romantis yang memang hanya dia yang punya. Seolah
itu adalah trade mark-nya. Dengannya, saya menghargai dan mensyukuri hal-hal
kecil yang mungkin sebelumnya tidak saya syukuri. Dengannya, saya belajar
menghargai perbuatan-perbuatan kecil yang begitu membahagiakan saya. Dengannya,
semua selalu baik-baik saja seolah sakit yang disebabkan oleh orang-orang yang
tidak suka melihat kebahagiaan kami tidak pernah ada wujudnya. Dengannya, meski
kadang-kadang menyesakkan hati, tapi selalu ada bahagia diujung hari. Dan
dengannya, insya Allah surga itu dekat dan berkah.
Saya mengaguminya. Dengan wajah tampan yang sangat charming. Tapi bagi saya
itu hanya bonus. Bagian terdalam hatinya juga sangat tampan meski tertutupi
oleh sikap temperamen dan mudah marahnya. Dan hanya saya yang tahu dia begitu
baik untuk saya. Tidak seperti yang diperlihatkannya pada sebagian besar orang
yang mengenalnya.
“Doa diulangi bukan karena Tuhan perlu diingatkan. Tapi sebagai pengingat
agar kita memantaskan diri untuk doa tersebut.”
Saya tidak pernah lupa menyebut namanya dalam setiap doa saya. Tentu saja
setelah babhe dan maknyak. Kata orang begitulah cara 2 orang berkomunikasi
ketika jauh. Mengingat saya dan charming memang LDR dengan zona waktu yang
berbeda 2 jam, maka begitulah saya terkadang menumpahkan sesaknya perasaan
rindu padanya. Bercerita dengan begitu sedih kepada Sang Maha Cinta yang telah
dengan “semena-mena” menyisipkan perasaan bernama rindu itu dalam hati saya.
Tidak mudah bertahan 5 tahun dalam hubungan jarak jauh. Tapi entah mengapa kami
betah-betah saja. Tentu saja tidak selalu baik-baik saja. Masalah jelas ada
meski hanya itu-itu saja, tapi we’re here right now. Still together..
Saya yakin Allah tidak akan pernah bosan mendengarkan doa saya yang selalu
itu-itu saja atau seputar itu-itu saja. Saya hanya menginginkan itu-itu saja. Tidak
ada yang lain. Selebihnya hanya rasa syukur dan terberkati.
“Jiwa yang indah memberi tanpa mengharapkan kembali, dan tak pernah
melupakan kebaikan yang pernah diterimanya.”
Mungkin begitulah saya dan charming menjalani hubungan yang sudah
berlangsung selama 5 tahun. Memberikan yang terbaik tanpa berharap apa-apa. Hanya
berharap kebahagiaan dan kebaikan bersama. Dengan begitu tidak akan ada yang
merasa lebih mencintai atau sebaliknya. Sebab yang saya yakini cinta tidak
seperti itu. Bukan cinta seperti itu yang saya inginkan. Dan bukan tipe cinta
seperti itu yang diajarkan orang tua saya.
Kami masih berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain. Meski kami
begitu bertolak belakang, tetapi kami punya tujuan yang sama. Meski kami tidak
selalu berjalan beriringan, saya tahu dia akan menunggu saya bila dia tiba
ditempat tujuan lebih dulu, atau saya yang akan menunggunya bila saya tiba
lebih dulu. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kami mendewasa dengan
begitu banyak masalah yang datang pada kami. Mencoba menghadapinya dengan
bijaksana. Belajar bersabar di setiap cercaan, dan berlapang dada ketika
pertanyaan “kapan menikah?” mulai terlalu sering kami dengar. Let us take it
slow. Pernikahan itu ibadah yang upacaranya dilakukan sekali seumur hidup
dengan pengertian sekali akad yang pelaksanaannya adalah seumur hidup. Masih banyak
yang harus dipersiapkan. Saya sering sharing dengan kakak cantik saya yang
selalu mengingatkan bahwa pernikahan haruslah dilakukan bukan hanya sekedar
cinta, sebab cinta tak akan selamanya ada. Jangan menikah hanya karena didesak
usia sebab usia itu waktu yang pasti. Tapi menikahlah dengan alasan bahwa
dengan menikah segala kebaikan akan bernilai ibadah dan bernilai berlipat
ganda.
Saya bukan tidak bisa hidup susah, hanya saja charming berpendapat bahwa
ketika dia sudah berani meminta saya dari babhe, maka lepaslah 1 tanggung jawab
babhe kepada saya dan berpindah kepadanya. Dia bertanggung jawab atas
kebahagiaan saya dan terlebih dia harus bisa lebih membahagiakan saya daripada
babhe.
Last but not least, hingga postingan ini saya upload saya sedang chatting
via BBM dengannya. Menikmati sisa waktu hari ini sebelum terlelap dengan hati
yang penuh harapan kebaikan akan segera terwujud. We feel beautiful with this
relationship, and feeling blessed with the distance.
“Real love is not based on romance, candle light dinner and/or walks along
the beach. In fact it’s based on respect, care and trust.”
P.S. Today on July, 31, my charming turn 26 years old.






