Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Kamis, 31 Juli 2014

INSIDE STORY (Beauty And The Blessed)


“Tidak mungkin orang yang disakiti hatinya tidak dihadiahi kebaikan, dan orang yang melukainya tidak dirugikan.”

Dear friends,

Sebelumnya Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Maaf jika ada kata-kata dan beberapa postingan saya yang mungkin banyak menyakiti hati teman-teman pembaca.



Sengaja posting kali ini saya beri tag inside story, karena postingan ini merupakan untold story di dalam untold stories series saya. Saya menulis postingan kali ini tepat di hari lahir prince charming saya, mechanical engineer saya dan insya Allah my future husband.



Sudah sejak saya akan berangkat dari jogja kembali ke kampung halaman saya ini, dia (charming saya) sangat bersemangat untuk segera bertemu, yaa 5 tahun kebersamaan kami dan hanya sesekali bertemu dengan rentang waktu yang sangat sedikit membuat dia begitu tidak sabar bertemu saya (entah beneran atau gombalan. Hahaaa..) Break fasting together with my family, cooking his meal for sahur (of course i cooked after iftar guys. Don’t think negative things. ;) ) membuat kami dekat baik jarak, waktu ataupu perasaan. Still wondering why? Then, we realized its just the matter of time. After all, waktulah yang akan menentukkan. Kebersamaan kami yang entah sudah berapa pertengkaran dan berapa perbaikan, kami masih disini, masih percaya dan yakin we’ve born for each other (insya Allah).

“When I first saw you, I saw love. And the first time you touched me, I felt love. And after all this time, you're still the one I love. Looks like we made it. Look how far we've come my baby. We might took the long way. We knew we'd get there someday. They said, "I bet they'll never make it" But just look at us holding on,, we're still together still going strong....”

–Shania Twain on You’re Still The One–

Lagu tante shania itu sepertinya cukup untuk mendeskripsikan hubungan kami (saya dan charming). Berat di awal kami menjalin hubungan. Fitnahan yang tidak henti, gangguan para mantan (yang sampai sekarang belum juga berhenti) dan beberapa sindiran yang saya artikan doa kebaikan dari teman-teman seusia saya yang sudah begitu berani menikah juga doa tulus dari maknyak dan babhe. Kami mendewasa dalam kebersamaan kami, belajar menjadi lebih baik, dan itu terlihat dalam diri charming yang semakin membuktikan kepada saya bahwa dia pun bisa seperti pria lainnya yang begitu mencintai wanitanya (tentu dengan cara yang hanya charming yang bisa). Mungkin sahabat bertanya kenapa saya menyebutnya dengan sebutan charming. I’ve told you i’m a hopeless romantic person yang tergila-gila dengan khayalan anak kecil tentang pangeran tampan berkuda putih. Charming saya bukan putra seorang raja, hanya saja dia memang charming untuk saya (atau paling tidak saya menganggapnya sebagai prince charming saya).



Saya mengaguminya. Dia memang bukan orang baik jika sahabat mencoba menelusuri masa lalunya (begitu yang selalu disebutkannya ketika saya mulai gundah tentang hubungan atau lebih tepatnya perasaan saya tentang hubungan kami) namun seperti yin dan yang, dia juga selalu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia memang bukan orang baik tapi akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Dia memang bukan seorang ahli agama yang akan jadi imam shalat berjamaah dengan bacaan surat yang panjang tapi insya Allah dia bisa jadi imam untuk saya meski bacaan suratnya hanya surat-surat dalam juz ‘ama.



Saya mengaguminya. Dengan caranya merawat mendiang ibunya dulu, merawat kakak dan adiknya. Saya melihat jiwa seorang suami dan ayah yang baik dalam dirinya. Karena mama pernah bilang : “jika ingin tahu seseorang itu mencintai dirimu atau tidak, lihat bagaimana dia mencintai orang tuanya. Dan jika ingin tahu apakah seseorang itu kelak akan mencintai anak-anakmu, lihat bagaimana dia memperlakukan kakak atau adiknya”. Saya juga bukan wanita yang begitu sholehah, saya masih belajar dan akan terus begitu. Sempat berfikir, mungkin suatu saat di masa lalu saya telah melakukan hal yang menurut Tuhan itu baik hingga Tuhan memberikan saya seorang charming yang menurut saya begitu betah dengan saya (trust me is not easy to loving me). Saya pernah menulis di postingan sebelumnya bahwa awal kami bertemu setelah sekian lama adalah ketika Ramadhan 2009. Sejak saat itu sungguh setelah kesulitan akan datang kemudahan benar-benar terbukti bagi saya.



Saya mengaguminya. Dengan kesederhanaan dan dengan apa adanya dia. Dengan cara mencintainya yang sungguh diluar harapan saya. Saya menyesuaikan diri dengannya yang kadang-kadang justru menyesuaikan dirinya dengan saya. Dia seolah tahu saya juga ingin seperti wanita pada umumnya yang berharap prianya begitu romantis. Yaa, saya tidak memungkirinya. Tapi saya tidak ingin memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukannya. Dia adalah pria romantis saya. Dengan cara romantis yang memang hanya dia yang punya. Seolah itu adalah trade mark-nya. Dengannya, saya menghargai dan mensyukuri hal-hal kecil yang mungkin sebelumnya tidak saya syukuri. Dengannya, saya belajar menghargai perbuatan-perbuatan kecil yang begitu membahagiakan saya. Dengannya, semua selalu baik-baik saja seolah sakit yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak suka melihat kebahagiaan kami tidak pernah ada wujudnya. Dengannya, meski kadang-kadang menyesakkan hati, tapi selalu ada bahagia diujung hari. Dan dengannya, insya Allah surga itu dekat dan berkah.



Saya mengaguminya. Dengan wajah tampan yang sangat charming. Tapi bagi saya itu hanya bonus. Bagian terdalam hatinya juga sangat tampan meski tertutupi oleh sikap temperamen dan mudah marahnya. Dan hanya saya yang tahu dia begitu baik untuk saya. Tidak seperti yang diperlihatkannya pada sebagian besar orang yang mengenalnya.



“Doa diulangi bukan karena Tuhan perlu diingatkan. Tapi sebagai pengingat agar kita memantaskan diri untuk doa tersebut.”



Saya tidak pernah lupa menyebut namanya dalam setiap doa saya. Tentu saja setelah babhe dan maknyak. Kata orang begitulah cara 2 orang berkomunikasi ketika jauh. Mengingat saya dan charming memang LDR dengan zona waktu yang berbeda 2 jam, maka begitulah saya terkadang menumpahkan sesaknya perasaan rindu padanya. Bercerita dengan begitu sedih kepada Sang Maha Cinta yang telah dengan “semena-mena” menyisipkan perasaan bernama rindu itu dalam hati saya. Tidak mudah bertahan 5 tahun dalam hubungan jarak jauh. Tapi entah mengapa kami betah-betah saja. Tentu saja tidak selalu baik-baik saja. Masalah jelas ada meski hanya itu-itu saja, tapi we’re here right now. Still together..



Saya yakin Allah tidak akan pernah bosan mendengarkan doa saya yang selalu itu-itu saja atau seputar itu-itu saja. Saya hanya menginginkan itu-itu saja. Tidak ada yang lain. Selebihnya hanya rasa syukur dan terberkati.

“Jiwa yang indah memberi tanpa mengharapkan kembali, dan tak pernah melupakan kebaikan yang pernah diterimanya.”

Mungkin begitulah saya dan charming menjalani hubungan yang sudah berlangsung selama 5 tahun. Memberikan yang terbaik tanpa berharap apa-apa. Hanya berharap kebahagiaan dan kebaikan bersama. Dengan begitu tidak akan ada yang merasa lebih mencintai atau sebaliknya. Sebab yang saya yakini cinta tidak seperti itu. Bukan cinta seperti itu yang saya inginkan. Dan bukan tipe cinta seperti itu yang diajarkan orang tua saya.



Kami masih berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain. Meski kami begitu bertolak belakang, tetapi kami punya tujuan yang sama. Meski kami tidak selalu berjalan beriringan, saya tahu dia akan menunggu saya bila dia tiba ditempat tujuan lebih dulu, atau saya yang akan menunggunya bila saya tiba lebih dulu. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kami mendewasa dengan begitu banyak masalah yang datang pada kami. Mencoba menghadapinya dengan bijaksana. Belajar bersabar di setiap cercaan, dan berlapang dada ketika pertanyaan “kapan menikah?” mulai terlalu sering kami dengar. Let us take it slow. Pernikahan itu ibadah yang upacaranya dilakukan sekali seumur hidup dengan pengertian sekali akad yang pelaksanaannya adalah seumur hidup. Masih banyak yang harus dipersiapkan. Saya sering sharing dengan kakak cantik saya yang selalu mengingatkan bahwa pernikahan haruslah dilakukan bukan hanya sekedar cinta, sebab cinta tak akan selamanya ada. Jangan menikah hanya karena didesak usia sebab usia itu waktu yang pasti. Tapi menikahlah dengan alasan bahwa dengan menikah segala kebaikan akan bernilai ibadah dan bernilai berlipat ganda.



Saya bukan tidak bisa hidup susah, hanya saja charming berpendapat bahwa ketika dia sudah berani meminta saya dari babhe, maka lepaslah 1 tanggung jawab babhe kepada saya dan berpindah kepadanya. Dia bertanggung jawab atas kebahagiaan saya dan terlebih dia harus bisa lebih membahagiakan saya daripada babhe.



Last but not least, hingga postingan ini saya upload saya sedang chatting via BBM dengannya. Menikmati sisa waktu hari ini sebelum terlelap dengan hati yang penuh harapan kebaikan akan segera terwujud. We feel beautiful with this relationship, and feeling blessed with the distance.

“Real love is not based on romance, candle light dinner and/or walks along the beach. In fact it’s based on respect, care and trust.”


P.S. Today on July, 31, my charming turn 26 years old.




Selasa, 22 Juli 2014

UNTOLD STORY 11 (Everything Has Change)



“Jangan pernah lupa bilang terima kasih. Jangan pernah gengsi bilang maaf. Dan jangan terlalu sombong untuk bilang tolong.”

Dear readers,
Its been long week since my last post on april.
I celebrate my 26th birthday on May 23th, 2014. My mom coming to jogja, not for celebrating my birthday but to registered my youngest brother to university and she choose that date to come. J

Banyak cerita yang ingin saya share, itu pun jika saya tidak lupa. Hehee :D

So, shall we start the story??

23 Mei 2014, I’m turn 26 years old. Wow, a quarter century plus one. Hahaaa. Tidak ada perayaan khusus seperti tahun sebelumnya. Hari itu saya menuju airport menjemput mama dan adik bungsu saya. A birthday greet or gift is not that important anymore. Tidak ada harapan khusus, masih harapan yang sama, ingin membahagiakan mama dan babhe. Berharap selalu menjadi orang yang senantiasa bersyukur untuk segala hal. (And for off the record of course my charming be the first person to wish me a happy birthday. A birthday gift?? Yes, he gave a gift, a white gold gorgeous bracelet. And he gave it earlier. When he visit jogja on april).

“Kalau dia yang berjalan kaki penuh keringat mendorong gerobak saja wajahnya penuh syukur, kenapa kita yang naik kendaraan masih sempat mengumpat dan mengeluh?”

Apa yang sahabat pahami dari kalimat diatas? Bersyukur? Introspeksi? Muhasabah? Tapi apapun itu semoga semuanya yang saya sebut itu bertujuan dan berniat kebaikan.

Saya sudah 26 tahun saja ternyata. Mencoba mengingat apa saja yang sudah saya lakukan selama 26 tahun ini. Merunut kembali perjalanan dari kehidupan saya. Yang membuat saya sadar betapa semua yang saya miliki ini begitu jauh dari bayangan saya dulu. Dan saya begitu bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Bukan tentang berapa banyak yang saya miliki, tetapi perjuangan dan proses saya mendapatkan semua yang saya miliki sekarang.

Saya sering menceritakan masa lalu saya di beberapa postingan sebelumnya. Bukan sedang curhat dan meminta belas kasihan atau mungkin ada sahabat yang berpikir bahwa blog saya ini sejenis diary elektronik dan dengan ‘alay’-nya saya bagikan ke semua orang. Hehehee saya tidak akan menjudge sahabat semua, tapi jujur semua cerita saya ini asli tanpa rekayasa. Bukan draft novel yang sedang saya postingkan di blog saya.

Mama datang ke jogja bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Bahagia? Jelas dong. Untuk anak rantau seperti saya, tidak setiap tahun mama bisa datang untuk ulang tahun saya. Tapi bukan itu yang ingin saya share. Mama membelikan sebuah kue ulang tahun di toko kue terkenal yang harganya berkisar Rp 250.000,- (saya yang memilih kuenya) teringat beberapa belas tahun lalu kue cake seperti itu hanya akan muncul setahun sekali setiap Idul Fitri tiba. Di usia 9 tahun kala itu, kue cake seperti itu merupakan sesuatu yang mewah yang hanya dikhususkan untuk tamu-tamu babhe dan mama yang datang bersilaturahmi ke rumah ketika Idul Fitri. Air mata bersyukur itu tidak bisa saya tahan ketika mengucapkan doa saat meniup lilin yang sekedarnya. Teringat almarhum adik saya adam. Masih teringat jelas ekspresi wajahnya malam takbiran sekitar tahun 1993. Wajahnya sumringah ketika babhe mengajak kami mengambil kue cake pesanan mama. Bukan kue cake yang mewah. Seingat saya cenderung ke layer cake coklat yang dihiasi whipped cream, parutan cokelat dan potongan buah chery. Kami tidak ingin tahu bagaimana mama bisa membeli cake seindah itu, yang kami tahu kami akan merayakan hari yang istimewa esok hari. Sedikit egois memang, tapi hey! We just the little kids back on that day. J

“Jika setiap harapan kita selalu berjalan sesuai rencana, kita tidak akan pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan.”

Yes! Those words are so true. Di usia saya yang sekarang bukan saatnya lagi menjadikan setiap persoalan sebagai sebuah prioritas. Saya belajar dan terus belajar untuk mengesampingkan hal-hal yang saya rasa tidak akan mendatangkan kebaikan untuk saya dan lebih memprioritaskan hal-hal yang menurut saya akan membuat saya lebih bersyukur dan bahagia. Dan meski terkadang tidak semua hal yang saya inginkan dan rencanakan tercapai, paling tidak saya belajar untuk menyikapi perasaan kecewa dengan sangat dewasa dan tidak mengeluh.

Saya mendapat banyak doa dari saudara-saudara di keluarga besar saya. Dan hampir sebagian besar doanya adalah agar saya cepat menikah. Hahaa. Saya bersyukur dan mengaminkan setiap doa mereka. Semakin banyak yang mendoakan akan semakin baik dan mudah bukan?

“Keluarga itu seperti pohon, kami masing-masing akan tumbuh pada cabang-cabang yang berbeda, tetapi kami berasal dari akar yang sama.”

Saya sering mengutip kalimat yang populer dari reality show “Keeping Up With The Kardashians” yang menyebutkan “people may come and go, but family will always here”. Yaa, teman, sahabat, saudara mungkin akan datang dan pergi sesuai kebutuhan mereka, tapi keluarga akan selalu ada untuk kita. Sejauh, selama dan sehebat apa pun kita, keluarga adalah tempat kembali diujung hari.

Beberapa waktu yang lalu saya dan dua adik saya sempat ribut. Entah apa yang merasuki saya malam itu tapi kadar emosi saya sungguh sampai ke ubun-ubun. Mama masih ada. Kesalah pahaman dan kurang pengertian kami membuat kami dihadapkan pada keadaan yang sungguh sangat menyakitkan hati. Namun, saya adalah seorang kakak, tugas saya adalah membuat adik-adik saya nyaman dan aman. Tidak perlu saya ceritakan masalahnya apa, yang pasti setelah ada masalah itu saya dan adik-adik saya semakin mengerti peran masing-masing. Untuk selalu belajar terbuka terhadap satu sama lain. Mencoba untuk mendewasa dan memperbaiki niat serta tujuan awal kami merantau. Tentu saja babhe selalu menjadi tempat saya mengeluh. Dan dengan nada sabar khas babhe, kata-kata beliau selalu menjadi penyejuk jiwa. Beliau mengingatkan saya tentang kodrat seorang kakak beserta hak juga kewajiban. Dan 11 tahun merantau bukan waktu yang singkat dan membuat saya cukup mengerti sesuatu yang mungkin hanya saya dan babhe yang paham. ;)

Its not easy to be me. No matter how hard life put me down every single time, my brothers and sister are the reason why I should stand up over and over again. I need to show them that there’s always something good you can learn on your fall. Dan untuk melakukan itu tidak bisa hanya 5 tahun belajar. Hingga saat saya mengetik postingan ini, saya masih belajar untuk mengerti adik-adik saya. Mereka itu adik, yang akan selalu melakukan hal-hal aneh dan tidak masuk akal untuk membuktikan diri mereka. Dan saya bersyukur mereka jauh lebih hebat dari saya. Tentu dengan kelebihan mereka masing-masing.

“Kita tidak selalu bisa mencegah orang melakukan keburukan kepada kita, tapi kita selalu bisa berlaku baik, bahkan kepada mereka yang menjahati kita.”

Ramadhan is almost over. Time flies so fast when we enjoy it. Rasanya baru kemarin Ramadhan itu tiba, sekarang sudah mau pergi lagi.

I’m on my home town right now. Its been 2 weeks since me and my siblings arrived. Yeaa, this draft have been on my netbook for 2 months. But its ok to finished what we’ve start than to start new one without finishing it.

Its always good to finally home. By home I mean where my mom belongs. :D
And finally at the same time zone with my charming. But feeling kinda sick because of the weather.

Bahagia rasanya bisa berkumpul bersama babhe dan mama. Merasa seperti inilah seharusnya Ramadhan. Saya melakukan early mudik bersama adik-adik saya. Memenuhi permintaan mama yang sepertinya sudah sangat merindukan anak-anak kesayangannya. Yaa, begitulah mama saya, a fulltime working mom and still have to be a housewive at night. Saya sudah sering mengatakan pada mama untuk tidak menjadi terlalu sibuk mengurusi rumah, but my babhe said that my mama love to work, doing dishes, laundrying, and anything about cleaning.

Kembali ke kampung halaman saya, melihat kembali sekolah saya dulu, and realize that banyak yang sudah berubah. Babhe yang dulu hanya seorang wakil sekretaris kini memiliki jabatan penting. Setiap sudut kota ini akan menyapa babhe. Life is like a wheel, sometimes you’re up and another time you’re at the bottom. Pesan babhe hanya selalulah bersyukur.

My babhe turn to 51th years old on July 17. And unfotunatelly on the 18 morning, a buglar breaking in my home. Took away the money and a phone (my phone actually). Feel so heart break but like my babhe always said, mungkin bukan rejeki kita. I’m questioning, apa benar setan dibelenggu saat Ramadhan? Kenapa masih saja ada yang berbuat jahat? But, its the police job now. We’ll waiting. Apa akan betul-betul diproses ataukah hanya akan menjadi catatan di buku laporan kasus.

“True love is about growing as a couple, learning about each other, and never giving up on each other.”

27 tahun yang lalu tanggal 19 juli dengan resepsi adat jawa yang lumayan meriah, babhe dan mama dipersatukan dalam sebuah ikatan suci yang biasa disebut pernikahan. Dan mereka masih bertahan hingga sekarang. Menikmati masa-masa indahnya dan sulitnya awal pernikahan yang akhirnya membawa mereka disaat ini. Di jaman yang semakin memudahkan segalanya. Melewati segala kesulitan hidup namun tetap bisa bersyukur dan selalu bersyukur meski musibah juga tak jarang datang menyapa. But, hey, Allah only test the one He loved right? Wish I can have my onw love story just like that.



“What is life? They say it’s from B to D. From Birth to death, but what’s between B and D? It’s a “C”. So what is a “C”? It is a CHOICE. Our life is a matter of choices, live well and it will never GO WRONG.”

Ramadhan is only for 6 days more. My mom starting to make a list on preparing the Eid Mubarak. Tradisi, yaa sebut itu sebuah tradisi bahwa mama akan semakin sibuk di 3 hari terakhir. Membuat semuanya harus sesempurna mungkin.

Teringat lebaran di era 90-an. Saya dan almarhum adik saya adam begitu bersemangat menyambut hari raya. Begitu bersemangat membantu mama membuat kastengel, nastar, atau variasi kue lebaran lainnya. Menatanya dalam toples kaca yang tidak begitu cantik tapi bagi kami saat itu tidak terlalu penting. Kami hanya merasa begitu bahagia. Tidak ada baju baru atau sepatu baru. Untuk anak-anak seusia kami saat itu hanya senang tidak harus berpuasa lagi. Kami boleh makan apa saja siang hari. Saya masih ingat sajadah biru muda yang sudah usang dan tipis, tapi entah kenapa saya masih menyukainya dan menggunakannya hingga saya lulus SMP. Jangan bayangkan mukena indah bermotif atau berbordir. Hanya mukena polos berwarna putih yang mungkin sudah saya gunakan sejak saya sudah bisa melakukan shalat. Begitu juga dengan Nain, tidak ada sarung katun yang berwarna cantik dan baju koko baru. Hanya sarung kotak-kotak berwarna coklat yang sudah dipakainya sejak usia 4 tahun dan baju koko berwarna putih yang entah sudah berapa kali terkena tumpahan opor ayam dan noda lainnya yang selalu bisa kembali putih bersih saat akan dipakai lagi. Belum lagi perjalanan dari rumah menuju tempat shalat ied. Jauh jika saya ingat sekarang. Namun saat itu tidak terpikir oleh kami. Hanya ada perasaan senang. Rasanya selalu ada yang kurang setiap kali lebaran tanpa Nain. Mengingat diawal perjalan kehidupan kami yang selalu bersama, saya kehilangan belahan jiwa saya. Sahabat terbaik saya. Partner in crime saya. Hehehe. Saya merindukan ekspresinya saat membuka toples nastar. Yaa, dia suka nastar. Juga opor ayam buatan mama. I just misses him..

Last but not least...
I just finished making a cookies for the Raya. So, I think this will be the closing line for this untold story...

Boleh jadi, saat engkau terlelap tidur, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari seorang fakir yang telah engkau tolong, atau dari orang kelaparan yang telah engkau beri makan, atau dari seseorang yang bersedih yang telah engkau bahagiakan, atau dari seseorang yang berpapasan denganmu yang telah engkau berikan senyuman, atau dari seseorang yang dihimpit kesulitan dan telah engkau lapangkan. Maka, janganlah sekali-kali engkau meremehkan sebuah kebaikan..




...EVERYTHING HAS CHANGE...