"Keluarga adalah soal cinta yang mengatasi siksaan emosional. Kita tidak bisa memilih keluarga kita, mereka adalah anugerah Tuhan untuk kita, begitu pula kita untuk mereka"
"Keluarga", satu kata yang punya banyak definisi. Apa yang ada dipikiran kamu saat membaca kata itu. Ke-lu-ar-ga? Untuk saya,, keluarga adalah :









How do they look..?? Cute, gorgeous, everything can't compare. Itulah keluarga saya. Cinta, persaingan antar saudara kandung, anugerah, kenangan, rahasia, pengalaman lucu, rasa aman, kearifan, drama. Keluarga bagi saya adalah segalanya, mungkin teman-teman juga memikirkan hal yang sama. Mereka mengajarkan banyak hal kepada saya. Terutama adik-adik saya. Kami memang tidak selamanya akur tapi pada akhirnya kami selalu bisa tertawa bersama saat mengingat pertengkaran yang baru saja terjadi. 24 tahun hidup saya meski 9 tahun diantaranya saya hidup terpisah dari keluarga saya karena harus menempuh pendidikan di luar pulau. Keputusan hebat pertama yang saya yakini saat itu adalah keputusan terbaik. Meski ditahun-tahun pertama hidup berjauhan saya lalu dengan - jujur - banyak penyesalan. Namun ayah saya selalu mengingatkan bahwa ini adalah pilihan saya dan saya wajib bertanggung jawab atas pilihan saya itu. (pelajaran I, tanggung jawab). Saat jauh dari keluarga saya, waktu yang paling saya tunggu adalah libur panjang sebelum Idul Fitri karena saya bisa mudik alias pulang kampung. (pelajaran II, sabar).
Saya sulung dari 5 bersaudara, meski seorang adik saya almarhum, saya masih tetap menganggap bahwa kami masih 5 bersaudara sampai kapan pun.

Dia ADAM ISNAIN RUMODAR, my beloved brother. Salah satu pelawak di keluarga kami yang lebih dulu dipanggil pulang oleh Sang Pencipta, saya berpikir mungkin Tuhan butuh hiburan lebih jadi dia menjemput adik saya untuk menemaninya. Pikiran konyol, biarkan saja. Saya masih tetap merindukannya seperti 9 tahun yang lalu saat dia masih sering menanyakan kabar dan mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan saya selama diperantauan. Dia dengan panggilan "kak chaiank-nya" selalu memberikan semangat dan mencerahkan hari-hari saya. Beda usia kami memang sangat dekat jadi kami tumbuh besar bersama, berbagi permainan dan teman-teman bermain kami pun sama. Dan yang paling penting saya dan nain - panggilan saya untuknya - melewati masa sulit awal-awal kehidupan kami bersama. Berangkat ke sekolah yang sama dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit dari rumah. Bergantian membeli sepatu baru - meski seringnya dia memakai bekas sepatu saya - merupakan kenangan yang tidak bisa saya lupakan, seolah itu tersimpan dalam folder kehidupan saya. Dia selalu menjadi sahabat terbaik saya, menjadi inspirasi saya dan selalu menjadi belahan jiwa saya.
"Dalam keluarga, kita akan mengenal berbagai karakter, belajar menyelaraskan sifat dan sikap, juga belajar bagaimana berbesar hati"

MUHAMMAD IQBAL RUMODAR, dia adik kedua saya, anak nomor 3, sifatnya yang pendiam, kalem, serius dan tipe pemikir sesuai namanya Iqbal - ayah saya berharap dia menjadi seorang profesor - dia menjadi yang terpandai, terajin, terdisiplin dan tersabar diantara kami berlima. Melihat sifat dasarnya yang seperti itu saya belajar arti sebuah kesabaran, disiplin, dan perfeksionisme. Dia juga mengajarkan saya sifat rendah hati yang so down to earth. Dia jarang meminta sesuatu kepada orang tua saya. Dia beranggapan selama masih bisa dipakai dia tidak akan meminta ganti baru. Dia juga memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengahnya di kota yang sama dengan saya. Dia punya kadar intelektual luar biasa, namun karena dia adalah siswa yang berasal dari luar pulau - rayon dalam bahsa pendidikannya- maka nilai UNAS-nya harus dikurangi 1,0 sehingga dia tidak bisa masuk dalam daftar SMA Negeri - kebijakan yang aneh bukan??- oleh sebab itu, dia pun saya daftarkan di SMA swasta milik salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam terkenal di Jogja. Dia beradaptasi dengan cepat. Karena sekolah swasta Islam, maka mata pelajaran pun tidak sama dengan sekolah negeri pada umumnya. Tapi dengan mudahnya dia bisa merebut perhatian guru-guru disekolahnya itu dengan prestasinya - I'm not surprised - yang cemerlang hingga ia menyelesaikan sekolahnya dengan nilai yang fantastis. Sayangnya meski dulu ia pernah berniat untuk kuliah dijurusan teknik kimia, saat ini dia justru memilih mengikuti hobinya - yang berubah drastis - yaitu musik. He have his passion to do things like that. As a family and his big sister, saya harus tetap mendukungnya. Lagi pula dia sudah mantap dengan pilihannya.

Hey!! Don't even think to compare. Hahahahaaa... She's pretty right? Yes, she is my one and only little sister FACHRINA RAMLAH RUMODAR, FYI, her middle name is given by me and she always complain about that name. Rina, panggil dia rina atau ina, dia anak nomor 4, berbeda usia 2 tahun dengan Iqbal meski dia sekarang duduk dibangku kelas 2 SMA yang membuat orang berfikir dia dan iqbal hanya berbeda setahun, tapi entah kenapa sejak TK dan SD, mama memilih memasukkannya ke sekolah meski umurnya belum "pas" - begitu aku menyebutnya. Dia juga punya sifat yang sangat berbeda dengan kami semua. Cuek, apa adanya, eplas ceplos, riang, dan mesik kadang kala dia plin plan dan menyebalkan, saya selalu merindukannya saat pergi jauh atau dia tidak didekat saya. Sounds so weird?? I don't think so. Ina juga mengikuti saya dan iqbal untuk melanjutkan sekolah di Jogja. Niat awalnya hanya ingin main ke Mall - mengingat di kota asal saya Mall sebesar Ambarukmo Plaza tidak ada - jadilah dia ikut "nimbrung" di jogja. Ina tidak memiliki otak encer seperti kakaknya, tetapi dia menyadari kekurangannya dan berusaha belajar lebih keras meski terkadang saya mendapatinya tertidur dengan buku-buku sekolah yang berserakan. Dia juga rajin, tapi hanya pada waktu dan mood yang hanya dia yang tahu. Dia juga memiliki sejumlah keanehan-keanehan yang hanya dia sendiri yang mengerti. Misalnya saja, dia bukan orang yang suka makanan pedas, tapi dia suka sekali memakan cemilan-cemilan yang berbumbu pedas. Atau dia bukan pencinta susu, tapi jika ada yang membeli susu kemasan berasa, dia akan menjadi salah satu penggemar berat. Tak jarang saya dan dia bertengkar, tapi hanya akan bertahan sehari. Karena bagi saya adik perempuan adalah seorang teman dan pembela, pendengar, teman sekongkol, penasehat, dan pembagi kegembiraan juga kesedihan.

Dari semuanya, adik bungsu saya TAUFIQ RAMDHANI RUMODAR, menjadi penutup sifat yang luar biasa. Dia merupakan perpaduan sempurna dari kami berempat. Nakal, keras kepala, rajin, pola pikir yang luar biasa, humoris, dan juga perhatian. Pola pikir dan sikapnya jauh lebih dewasa dibandingkan saya, meski dia bungsu, dia tidak bersikap manja atau tergantung pada orang tua saya - paling tidak dia berbeda dengan kebanyakan anak bungsu pada umumnya - karena ayah saya sering tugas keluar kota dan mama juga pasti ikut menemani. Dia tidak pernah mengeluh kenapa dia selalu ditinggal sendirian di rumah. Atau saat papa dan mama mengunjungi kami bertiga di jogja dan dia tinggal di rumah sendirian bukanlah masalah besar. Dia pernah meminta untuk ikut juga bersekolah di Jogja, tapi saya menyarankan agar dia menemani mama saat papa harus ke luar kota sendirian. Dan dengan sangat berbesar hati dia menerimanya. Dengan begitu banyaknya alasan kami selalu bisa sayang padanya meski dia melakukan hal-hal antik, tak ada alasan bagi kami untuk lama-lama marah padanya. He's the last child but act like the old one. :)
"Sebut itu klan, sebut itu jaringan, sebut itu suku, sebut itu keluarga. Tapi apa pun kau menyebutnya, siapa pun dirimu, kau butuh satu"
Sebagai anak sulung, saya menjadi role model bagi adik-adik saya. Apa yang saya lakukan dan apa yang saya capai menjadi tolak ukur adik-adik saya. Dan meski terkadang menjadi beban tersendiri, itu menjadi semangat lain untuk saya agar selalu meraih prestasi dan berharap adik-adik saya bisa lebih hebat dari saya. Banyak orang yang beranggapan saya cemburu atau iri hati dengan pencampaian adik-adik saya yang luar biasa. Tapi, bagi saya, pencapaian mereka itu sama seperti pencampaian saya diwaktu saya dulu. Ini waktu mereka, kenapa saya harus iri hati? Atau kecemburuan tentang keadaan sosial yang jauh berbeda saat saya dan adik saya almarhum dulu. Saya justru sangat bersyukur dengan rejeki yang datang dan menguntungkan adik-adik saya. Meski terkadang saya marah dengan sikap mereka yang terkesan arogan, bukan tugas saya untuk merubah mereka. Mereka sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Tugas saya hanya mengingatkan dan memberi pengarahan agar mereka tidak keluar jalur. Dan beruntungnya saya, saya memiliki adik-adik yang mau menerima saran juga kritik dan tidak sungkan memprotes jika saya melakukan kesalahan yang menurut mereka kurang "pas". Tapi pada akhirnya, saya adalah seorang kakak, dan kakak tahu segalanya, hahahaa itu motto saya. Karena memang adik-adik saya selalu bertanya pada saya tentang apa pun dan apa saja juga kapan saja.
Gelar "KAKAK" di depan nama saya jauh lebih berat tanggung jawabnya daripada gelar "SARJANA HUKUM (S.H.) di belakang nama saya. Dan saya merasa sangat bangga pada semua kakak di dunia yang meski haknya selalu ada diurutan terakhir tapi mereka selalu berbahagia untuk adik-adik mereka. Saya dan kakak-kakak lainnya di dunia akan dengan sangat berbahagia berkorban dan melakukan apa saja untuk adik-adik kami. Saya ingat pernah berbagi uang jajan bersama adik saya almarhum. Dan dengan adik perempuan saya, kami berbagi apa saja termasuk pakaian dan kerudung. Meski dia lebih banyak meminjam pakaian saya, saya justru merasa sangat bangga saat pakaian saya jauh lebih bagus saat dia memakainya. Entah perasaan apa itu tapi yang jelas saya menikmatinya.
"Syukur adalah sikap terbaik, Tawa adalah obat terbaik, karena persaudaraan adalah ikatan terkuat"
Love is to be ridiculous together...
Yaa,, saya dan adik-adik saya punya selera humor yang luar biasa lucu, mungkin karena ayah kami juga punya sifat itu. Diusia beliau yang setengah abad,, beliau masih saja bisa bercanda dengan kami atau teman-teman kami. Kami bersyukur memiliki ayah seperti babhe - saya biasa memanggil ayah saya dengan sebutan itu, and believe me saya bukan keturunan betawi - karena meski lelah dengan tanggung jawab sebagai kepala kantor, babhe masih sempat bercerita dan bercanda dan tipe ayah seperti itu hanya 1:10.000 saja di dunia ini. Kami berlima punya julukan yang terdengar keren "FURIOUS FIVE",, sounds like a movie tittle.. :)
Keluarga adalah segalanya untuk saya. Tempat pelarian paling sempurna yang pernah saya miliki. Tidak ada yang bisa menandiningi pelukan mama yang selalu bisa membuat hati dan pikiran nyaman, tidak ada yang bisa mengalahkan kata-kata babhe yang selalu bisa membuat jiwa bergetar dan tersadar bahwa hidup bukan hanya sekedar mengeluh apa yang tidak kita miliki, dan tidak ada yang lebih membahagiakan daripada bisa berkumpul dan bercanda dengan adik-adik saya. Even mr. bean or edie murphy are the best comedian ever, my brothers and sister are the great joke maker. Itu semua terbukti saat saya sedang menyusun skripsi saya dan saat itu saya benar-benar menyerah dan merasa tidak sanggup lagi. Doa dan harapan adik-adik saya meski disampaikan dengan cara dan nada bercanda,, but that's means a lot for me.
Saya selalu berharap bisa memiliki satu keluarga milik saya sendiri yang seperti ini. Yang selalu saling mendukung meski kami juga bersaing untuk membuktikan siapa yang lebih baik. Yang meski selalu berantem karena hal kecil, kami tetap mencintai satu sama lain. Dan yang selalu menghibur, meski terkadang hiburan itu tidak masuk akal. Dan walaupun saya merasa sangat iri karena ketiga adik saya dibesarkan dalam keadaan yang sangat memanjakan, saya tetap mencintai mereka sebanyak saya mencintai almarhum adik saya nain. Saya seorang kakak, kata babhe meski saat ini mungkin mereka tidak patuh pada saya, suatu saat pasti mereka akan mencari saya. Karena saya kakak mereka yang akan selalu perhatian kepada mereka, who always love them no matter what. ;)
"Segala hal bisa saja mengubah kita, tapi kita berawal dan berakhir dengan keluarga karena kedekatan kakak dan adik itu seperti kaki dan tangan. Mereka seperti sahabat yang tak mungkin kita singkirkan, sebab apa pun yang kita lakukan mereka akan selalu mendampingi"
Alhamdulillah yah sesuatu... ;)
Keluarga adalah "sesuatu" saya yang tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Saya berasal, belajar dan akan kembali pada mereka. Karena bagi saya kasih sayang dan cinta yang dianugerahkan oleh keluarga saya adalah tanda bahwa Tuhan telah dan selalu memberikan saya belahan jiwa yang tidak akan pernah meninggalkan saya sepanjang hidup saya dan seburuk apa pun keadaan saya.
I LOVE MY FAMILY, J'AIME MA FAMILLE, AMO LA MIA FAMIGLIA, AMO A MI FAMILIA, أنا أحب أسرتي