Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Selasa, 09 Oktober 2012

UNTOLD STORY 3

"Rumah yang indah adalah rumah yang di dalamnya terdapat tiang-tiang kuat yang terdiri dari cinta kasih, saling melengkapi, saling menghargai dan melindungi. Setelah itu, rumah tersebut dipagari oleh do'a yang akan menjaga keindahan rumah itu."






This is the story about months ago. In Iedul Fitri 1433 H where my family gathers in jogja. Beautiful time to spent with my family. My parents, my brothers and sister. And of course the road trip to Sragen, Purworejo and Magelang will be written below. So, enjoy. :)

Finally,, setelah sebulan berpuasa di Ramadhan yang penuh keberkahan, akhirnya tiba saat berbahagia menyambut kemenangan. Dan Idul Fitri kali ini terasa berbeda karena akhirnya saya dan keluarga saya bisa berkumpul tanpa harus terpisah pulau. hehehee.. Yaaa,, karena akhirnya bisa lebaran sama-sama. Meski tetap berasa kurang karena almarhum adik saya tidak ada. But, its time to realize that he's happy in the other place.





Tradisi sungkeman memang lumrah saat lebaran. Dan entah kenapa setiap kali meminta maaf ke babhe dan mamakhe saya selalu menangis (mungkin karena kebanyakan dosa sama orang tua kali ya?? hehehe) dan saat dipeluk babhe itu berasa dunia cuma punya saya. Yeeaa, I'm dady's girl. Makanya pas ditanya kriteria suami seperti apa yang bakal masuk short list (ceileh), jawaban saya adalah mau yang seperti babhe! Good looking, pinter, humoris, serius, perhatian dan religius (hahahaaa.... What you guys think). Dan pesan babhe saat saya bilang begitu adalah "bisa memang dapat pria seperti itu tapi mikir lagi tanya sama diri sendiri, kakak (panggilan babhe untuk saya karena saya memang anak pertama) pantas atau tidak dikasih suami seperti itu sama ALLAH..?? Karena laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan sebaliknya." Eeeng iinngg eeenggg... Tiba-tiba langsung mikir udah pantes belum ya?? Dan sampai sekarang saya masih berusaha memantaskan diri untuk siapa pun itu nanti dengan kriteria begitu. Insya Allah :)

Setelah menikmati hasil masakan saya berkolaborasi dengan mamakhe (karena saya bertugas menjadi asisten super chef alias mama) babhe kemudian bercerita tentang hakikat lebaran, agama, Shalat, do'a, dan ilmu-ilmu aqidah yang tidak kami pelajari di sekolah. Juga cerita tentang 25 tahun silam kepada adik-adik saya. Yaaa, masa-masa dimana saya dan almarhum adik saya belum mengerti apa sebenarnya arti dari hidup susah itu. Yang kami tahu saat itu susah adalah saat ada PR dan kami tidak bisa menyelesaikannya. Seperti biasa, babhe selalu mensiratkan nasehat-nasehat tidak langsung yang kalimat-kalimatnya itu walau tidak sekelas bapak Mario teguh, tapi sangat ampuh membuat saya tersadar-sadar. :)

Babhe bercerita dan bernostalgia tentang kehidupan kami sekitar tahun 1990an. Mengenang setiap episode kehidupan babhe, mamakhe, saya dan almarhum nain. Bercerita indahnya mensyukuri nikmat yang begitu melimpah (walau kadang saya berpikir tidak begitu). Ada satu cerita yang baru saya ketahui saat lebaran ini. Saat kami sedang bercerita tentang almarhum nain yang begitu ceria, yang sudah bisa menyetir saat masih SMA kelas 1 meski kami tidak punya mobil saat itu. Babhe bilang "setiap yang diambil oleh Allah akan digantikan, begitu juga sebaliknya". Saya tidak mengerti maksud babhe sampai babhe cerita bahwa malaikat Izrail dengan perintah Allah sebenarnya sudah berulang kali ingin menjemput almarhum nain. Pertama, saat babhe mengajaknya memancing di belakang pulau. Malam yang gelap, serta ombak yang lumayan tinggi tidak menggoyahkan semangat nain dan babhe waktu itu. Saat itu nain duduk di bagian belakang perahu sedangkan babhe dan seorang paman duduk di depan. Dan saat ombak menerjang adik saya itu terjatuh ke laut dengan kedalaman puluhan meter yang dingin dan syukurnya babhe dan paman masih menemukannya dan menariknya naik ke perahu. Yang kedua, saat babhe menyetir dan hampir menabrak tugu peringatan di Timika. Yang ketiga, saat mobil hampir tergelincir karena hujan deras. Tertegun dan saya hanya bisa haah?? Seolah tidak percaya bahwa Allah begitu menginginkan adik saya cepat kembali pada-Nya. Babhe juga selalu mengingatkan untuk senantiasa bersyukur dan mengingat almarhum nain saat kami bersenang-senang. Dan saat mengingat ekspresi ceria almarhum adik saya itu, saya hanya bisa berbisik dalam hati "Allah, bahagiakan nain seperti yang kami rasakan sekarang".

Ada perasaan yang tidak pernah hilang saat saya selalu berandai-andai kalau saja saat ini nain masih disini bersama saya dan keluarga saya. Berseda gurau dengan saya dan adik-adik saya. Bertukar cerita mop (cerita-cerita lucu dari papua) karena nain adalah rajanya cerita mop. Dan dialah yang mampu menghidupkan suasana saat ada acara keluarga, entah itu kumpul keluarga seperti lebaran, atau ada acara silaturahmi dari keluarga besar babhe. Nain dekat dengan siapa saja, bisa melakukan apa saja, punya teman dari kalangan dan suku mana saja, dan dia adalah montir tercinta saya. Adik saya itu charming, sangat tampan sampai teman-teman sekolah saya dulu suka sekali menggodanya.

"Kerinduan itu seperti mutiara, proses terbentuknya sangat menyakitkan tapi setelah terbentuk menjadi mutiara akan sangat berharga."










Dan nikmat Allah yang mana lagi yang akan aku dustakan..?? Saya punya semua yang saya butuhkan. Orang tua yang selalu bisa merangkap tugas menjadi psikiater, adik-adik saya yang kadang berganti peran menjadi sahabat terbaik dan entertainer sejati. Hahaha.. :)

Dan meski terkadang saya dibuat stres oleh tingkah polah adik-adik saya, bagi saya dan yang selalu dipesankan oleh babhe saya kalau ini adalah pelajaran yang mungkin masih akan saya terima jauh di depan sana, namun dengan kemurahan-Nya, Allah memberikan saya pelajaran melampaui batas usia saya dan itu membuat saya bisa berpikir jauh lebih bijak tentang apa yang harus lakukan. Dan walaupun terkadang saya protes dengan keadaan melihat teman-teman seusia saya waktu itu bisa dengan mudah menikmati kehidupan remaja mereka tanpa harus berpikir nilai saya harus bagus, atau IPK saya harus bagus, atau apa yang akan disampaikan guru kelas adik-adik saya, atau tagihan listrik, telepon dan air, atau apa yang harus saya lakukan kalau adik saya sakit. Dan meski berulang kali saya hanya bisa menangis dan marah pada babhe atau mamakhe, mereka berulang kali juga dengan sabar mengingatkan saya bahwa inilah tahap kehidupan, siapa yang belajar dan menyiapkan diri lebih dulu kelak akan lebih siap dan mampu menghadapi semua permasalahan hidup dengan mudah.

Dan saat mendengar lagu yaa nabi salam alaika punyanya Maher Zain, saya dengan begitu mudahnya terharu mengingat dulu babhe selalu melantunkan lagu itu sebagai lullaby saya dan almarhum adik saya. Dan entah kenapa itu membuat saya semakin merindukan babhe dan almarhum nain. Meski awalnya berat (sampe sekarang sih) tapi I enjoy it little bit. Hahaa.. ;)

Sampai beberapa waktu yang lalu mama menanyakan kapan menikah..?? Seketika rasanya pandangan kabur dan buram (lebaaaayyyy lebaayyy) hahaaaa.. Tapi jujur memang itu yang saya rasakan. Dan dengan alasan yang selalu sama, saya bilang saja masih senang jadi anak babhe dan sedang menikmati kesibukan baru menjadi associate lawyer (ceileh dah nih). Mamakhe dengan santainya juga bilang : "jangan sampai lupa saja, mama cuma mengingatkan menikah itu penting". Gedubraakk gombreng gak kalau mamakhe sudah bilang begitu?? dan saya cuma bisa jawab iya maa ini juga sambil jalan (hahahaa ngeles banget yuah). Tapi saya menikmati itu sebagai reminder bahwa hidup saya masih panjang meski tidak tahu akan sepanjang apa. Dan dengan apa yang saya miliki sekarang sepertinya saya belum merasa butuh seseorang dengan gelar suami. hihihii.. I'll let you know when I meet someone who potential to be my man.

"There is always a problem during your life, but make sure everything you did is always about to make others happy. Li'an Allahu ya'imurnaa antuukiwwuna mufiiydah lil aakhiraynii (because Allah commands us to be usefull to others)"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar