"To be capable of steady friendship or lasting love, are the two greatest proofs, not only of goodness of heart, but of strength of mind."
Waktu dan durasi memang tidak menjamin bertahannya sebuah hubungan, namun apa yang terjadi sepanjang durasi itu. Entah itu hubungan cinta ataukah persahabatan. Dan kebanyakan orang akan menyayangkan durasi kebersamaan yang begitu lama tapi kemudian putus atau berhenti di tengah jalan. Yang sering terlupa adalah bahwa tidak semua hal yang awalnya begitu indah tidak memiliki masalah yang akhirnya mengakibatkan semua yang indah itu menjadi biasa saja. (curhaaattt hahaa)
Seperti yang selalu saya tulis bahwa cinta itu menyembuhkan, baik yang memberi maupun yang menerima, saya punya keyakinan sendiri (walau mendapat dukungan dari teteh paling cantik teh devi) bahwa setiap orang punya hak untuk berbahagia, dan caranya pun memang disesuaikan dengan yang mau berbahagia. Karena kita berhak punya kriteria dan batasan tertentu untuk menentukkan apakah kita bahagia ataukah tidak. Dan yang terpenting adalah kita sudah membuat diri kita pantas untuk berbahagia. Karena tidak mungkin kan kita ingin bahagia tapi tidak pernah membahagiakan orang lain? So,, sudah pantaskah kita berbahagia? (tanya kenapa ^_^)
I tried my best to keep all the beautiful thing in my love life. Keep falling in love with him every single day I woke up. And even I must said sorry for a thing I didn't think that's a mistake. I tried to make everything perfect until I realize that this is too far or too big to me to handled. So, I decide to stop being someone else and try to make everyone see me as I am. I stopped that train we called relationship that didn't mean I stop loving you but for sure I'm stop hurting your heart and mine too caught in the relationship where we don't even know where to go. (halaaahh apa sih ini??)
Saya pernah membaca sebuah buku oleh pujangga cinta terkenal, bahwa cinta tidak dibangun oleh panjangnya waktu perkenalan, tapi oleh kesesuaian jiwa. Jika dua jiwa tidak sesuai bagi satu sama lain, tidak ada jumlah waktu yang cukup untuk menjadikan mereka belahan jiwa. Tapi jika jiwa mereka sesuai, bahkan sebelum mereka bertemu pun mereka sudah belahan jiwa bagi satu sama lain hanya saja belum dipertemukan oleh Tuhan.
Banyak kisah dan cerita cinta yang luar biasa yang berakhir bahagia dan ada juga yang berakhir tragis. Tapi bagi saya, the greatest love story adalah cerita cinta orang tua saya. Babhe dan Mamakhe sudah 25 tahun menikah dan masih tetap disini untuk berbagi kehidupan. Babhe yang punya sifat humoris di usia yang ke-49 saat ini masih bisa membuat mama tersipu malu atau istilah kerenya sekarang digombalin. Hahahaaa. Itu memang sifat babhe saya. Dan mama meski tidak terlalu humoris, mampu mengimbangi gombalan itu. Kalau 10 tahun lalu saya berfikir bunga, coklat, candle light dinner adalah hal paling romantis, maka sekarang hal paling romantis untuk sebuah kehidupan yang penuh cinta itu adalah saat babhe sama mamakhe duduk berdua minum teh di ruang tamu sambil cerita-cerita nostalgia dan bersyukur untuk hari ini. (nguping sayaah ^_^ ) Karena sebuah keluarga yang baik, dimulai dengan cinta, tumbuh dengan kelemah lembutan dan dirawat dengan kasih sayang yang tanpa pamrih. Dan itu menjadi pengalaman dan pelajaran tersendiri bagi saya. Yang juga menjadi impian saya untuk bisa jatuh cinta pada orang yang tepat. Bukan menurut saya tapi menurut Allah. (ini pesan babhe saya) :)
Cinta berbicara dengan bahasanya. Dan memang hanya orang-orang yang paham tentang cinta saja yang akan mengerti. Cinta memang punya definisi berbeda bagi setiap orang. Bagi saya cinta adalah melihat mama yang masih tetap bisa tersipu salah tingkah karena babhe saya, candaan adik-adik saya, dan ejekan lucu sahabat saya. Karena cinta bukan hanya sekedar perasaan dan kebutuhan yang timbul dengan lawan jenis tetapi juga tentang kepatuhan, kesetiaan, dan kekuatan untuk saling mendukung. Bukan juga tentang kerinduan yang menyiksa dan air mata kepedihan, tapi tentang kejujuran dan kepentingan kebahagiaan bersama yang diutamakan.
Dan biarlah perjalananku menuju hatimu membuatku semakin yakin bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan ini sudah tersimpan di mega-server lauhul mahfuz dan menunggu saat yang tepat untuk dipertemukan. Seperti kisah cinta Fatimah az-zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang dengan sabar menunggu dan berusaha mendapatkan cinta. :)
Seperti yang selalu saya tulis bahwa cinta itu menyembuhkan, baik yang memberi maupun yang menerima, saya punya keyakinan sendiri (walau mendapat dukungan dari teteh paling cantik teh devi) bahwa setiap orang punya hak untuk berbahagia, dan caranya pun memang disesuaikan dengan yang mau berbahagia. Karena kita berhak punya kriteria dan batasan tertentu untuk menentukkan apakah kita bahagia ataukah tidak. Dan yang terpenting adalah kita sudah membuat diri kita pantas untuk berbahagia. Karena tidak mungkin kan kita ingin bahagia tapi tidak pernah membahagiakan orang lain? So,, sudah pantaskah kita berbahagia? (tanya kenapa ^_^)
"Cinta itu soal jiwa, bukan soal penampilan luar yang hanya sementara. Cinta itu penuh hormat dalam kelembutannya. Cinta tidak memudar jika ketertarikannya tidak memudar".
I tried my best to keep all the beautiful thing in my love life. Keep falling in love with him every single day I woke up. And even I must said sorry for a thing I didn't think that's a mistake. I tried to make everything perfect until I realize that this is too far or too big to me to handled. So, I decide to stop being someone else and try to make everyone see me as I am. I stopped that train we called relationship that didn't mean I stop loving you but for sure I'm stop hurting your heart and mine too caught in the relationship where we don't even know where to go. (halaaahh apa sih ini??)
Saya pernah membaca sebuah buku oleh pujangga cinta terkenal, bahwa cinta tidak dibangun oleh panjangnya waktu perkenalan, tapi oleh kesesuaian jiwa. Jika dua jiwa tidak sesuai bagi satu sama lain, tidak ada jumlah waktu yang cukup untuk menjadikan mereka belahan jiwa. Tapi jika jiwa mereka sesuai, bahkan sebelum mereka bertemu pun mereka sudah belahan jiwa bagi satu sama lain hanya saja belum dipertemukan oleh Tuhan.
Banyak kisah dan cerita cinta yang luar biasa yang berakhir bahagia dan ada juga yang berakhir tragis. Tapi bagi saya, the greatest love story adalah cerita cinta orang tua saya. Babhe dan Mamakhe sudah 25 tahun menikah dan masih tetap disini untuk berbagi kehidupan. Babhe yang punya sifat humoris di usia yang ke-49 saat ini masih bisa membuat mama tersipu malu atau istilah kerenya sekarang digombalin. Hahahaaa. Itu memang sifat babhe saya. Dan mama meski tidak terlalu humoris, mampu mengimbangi gombalan itu. Kalau 10 tahun lalu saya berfikir bunga, coklat, candle light dinner adalah hal paling romantis, maka sekarang hal paling romantis untuk sebuah kehidupan yang penuh cinta itu adalah saat babhe sama mamakhe duduk berdua minum teh di ruang tamu sambil cerita-cerita nostalgia dan bersyukur untuk hari ini. (nguping sayaah ^_^ ) Karena sebuah keluarga yang baik, dimulai dengan cinta, tumbuh dengan kelemah lembutan dan dirawat dengan kasih sayang yang tanpa pamrih. Dan itu menjadi pengalaman dan pelajaran tersendiri bagi saya. Yang juga menjadi impian saya untuk bisa jatuh cinta pada orang yang tepat. Bukan menurut saya tapi menurut Allah. (ini pesan babhe saya) :)
"Dalam sekejap mata, kuperdengarkan kisah cinta pertamaku. Aku mulai mengharapkan dan menanti-nantikanmu. Aku tak menyadari betapa butanya cintaku padamu. Kisah cinta tak berakhir tanpa tujuan, karena saat mencintaimu, aku telah sampai ke tujuanku."
Cinta berbicara dengan bahasanya. Dan memang hanya orang-orang yang paham tentang cinta saja yang akan mengerti. Cinta memang punya definisi berbeda bagi setiap orang. Bagi saya cinta adalah melihat mama yang masih tetap bisa tersipu salah tingkah karena babhe saya, candaan adik-adik saya, dan ejekan lucu sahabat saya. Karena cinta bukan hanya sekedar perasaan dan kebutuhan yang timbul dengan lawan jenis tetapi juga tentang kepatuhan, kesetiaan, dan kekuatan untuk saling mendukung. Bukan juga tentang kerinduan yang menyiksa dan air mata kepedihan, tapi tentang kejujuran dan kepentingan kebahagiaan bersama yang diutamakan.
Dan biarlah perjalananku menuju hatimu membuatku semakin yakin bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan ini sudah tersimpan di mega-server lauhul mahfuz dan menunggu saat yang tepat untuk dipertemukan. Seperti kisah cinta Fatimah az-zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang dengan sabar menunggu dan berusaha mendapatkan cinta. :)
"Semua yang ada dalam kehidupan adalah tentang cinta. Matahari yang cinta pada bumi sehingga selalu menghangatkannya, embun yang cinta pada pagi sehingga selalu hadir sebelum matahari membuatnya sirna, dan bunga yang cinta pada lebah yang dengan ikhlas memberikan nectar untuk kemudian diubahnya menjadi madu. Semua yang hidup pasti akan mencinta dan dicinta. Karena Allah menciptakan manusia karena kecintaan-Nya."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar