"Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan orang yang berpikiran baik selalu dapat menikmati hidup."
Tidak terasa sebentar lagi Lebaran dan momen yang tidak pernah terlewat adalah tradisi mudik. Yaaa.. mengingatkan saya tentang tahun-tahun yang telah lewat dimana saya menjadi salah satu anggota dari tradisi tahunan itu. Dan memang betul bahwa seiring bertambahnya umur dan berubahnya keadaan serta pola pikir, membuat tradisi mudik yang biasa saya lakukan menjadi bukan prioritas utama. Bukan karena tidak rindu keluarga, tapi mencoba realistis. Jarak yang luar biasa dan trans-cost yang amazing membuat saya berpikir lebih baik dana itu saya gunakan untuk yang lebih penting dan menjadi prioritas {bukan untuk beli gadget terbaru loh ya (*o*) }
Saya begitu menikmati menjadi mahasiswa perantauan yang ternyata bila dilihat kembali menjadi saksi perubahan kota Jogja yang jika dulu saat musim mudik tiba, kota budaya ini selalu lengang tapi sekarang justru semakin ramai padahal tidak semua orang yang mudik ke Jogja adalah warga Jogja justru warga kota lain yang ingin menghabiskan liburan bersama keluarga di kota Jogja.
"Kita hanya memerlukan rencana yang sederhana dan tetap sederhana, yang
penting Kita konsisten menjalankannya. Karena hidup itu memang tidak mudah tetapi yakinlah bahwa Kita bisa."
How do they look?? Hahaaa I can see the smile on your face. Look how professional they are. Tell me what you think. Yaaa.. Hari ini 3 tahun yang lalu, saya dan orang-orang hebat dalam foto itu menjadi salah satu orang beruntung yang diijinkan masuk ke ruangan Sekretaris/Panitera (kalo di Pengadilan Indonesia) yang kebetulan adalah teman kami di Kompleks Mahkamah Kuala Lumpur (Mahkamah Agungnya negara Malaysia). Look at their face, bisa melihat yang saya lihat? Itu adalah wajah-wajah calon petinggi bangsa ini besok (amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinn).
Saya dulu tidak pernah menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk study di luar negeri (yaa meski cuma deket sih). Setelah saya ditikung dan merasa tidak diberi kesempatan waktu SMP untuk mengikuti jambore dunia (masih inget saja) saya merasa bahwa mungkin kesempatan itu bukan milik saya dan bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau merendahkan orang lain atau mungkin kalian berpikiran saya ini pendendam, tapi jujur saja itu sudah bukan masalah besar lagi buat saya. I've got my chance. Dulu semua yang saya alami sekarang hanya sebatas 'mbathin' alias cuma saya ucapkan dalam hati. Dengan kata-kata awal "suatu saat saya ingin..................." (isi aja sama impiannya). Sampai tibalah saat dimana kesempatan itu datang dan tanpa berpikir lama, saya menyiapkan semua yang diperlukan untuk seleksi dan FYI bahasa inggris saya tidak sebagus teman-teman saya yang lolos waktu itu. Bisa dibilang saya ini beruntung bisa lolos (meski berita kelolosan itu diwarnai insiden macam-macam seperti yang sudah saya ceritakan duluuuuuu sekali). Siapa yang menyangka, bahkan saya sendiri takjub bahwa keberangkatan saya ke Kuala Lumpur 3 tahun lalu merupakan langkah besar pertama yang mengubah seluruh hidup saya, cara berfikir saya, cara pandang saya, dan saya menemukan sahabat-sahabat yang benar-benar peduli. Ya orang-orang hebat dalam foto di atas tadi. Itu baru sebagian kecil rencana saya yang terwujud masih banyak rencana yang harus diwujudkan, karena bagi saya rencana adalah jembatan menuju mimpi, jika tidak membuat rencana itu sama seperti kita tidak memiliki pijakan langkah menuju cita-cita. Bahasanya seperti outline atau kerangka, mau apa, kemana, dengan cara apa, apa yang dibutuhkan dan sama siapa. Kita harus menyiapkan semuanya, memikirkan resiko apa yang akan kita ambil atau dengan siap kita akan bertemu, apakah orang yang akan mendukung ataukah orang yang ditugaskan Allah untuk menguji kita. But we don't have to worry, kita harus yakin bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
"Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala pikiran, harapan dan
keinginan terungkap dan terangkum bersama menyimpan keutuhan. Ketika
tiba saat perpisahan, janganlah kita berduka, sebab apa yang kita
kasihi darinya mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan, seperti gunung yang tampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.
Jangan ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya
jiwa. Karena cinta kasih yang masih mengandung pamrih hanyalah jaring
yang ditebarkan keudara, hanya menangkap kekosongan semata."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar