Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Selasa, 28 Mei 2013

UNTOLD STORY 7 (25th years old and Being The Guardian)

"There will come a time when you might have to decide who lives and dies out there. It's a terrible responsibility but it's one you will have to make as a rescue swimmer. The bigger reality is, its also something you are going to have to live with as a human being. There will come a time when you will have to say no. The most important person to keep alive is yourself." -The Guardian-

Truly, I'm not that guardian like the movie where there's handsome and cool Mel Gibson act as the rescue swimmer. I'm just me, took part in life (not) act as sister, housewife, the household chief. Just imagine a life of single mother with 2 children but the children are my one and only sister and brother. I take responsibility of what they eat for breakfast, lunch and dinner. :)

Sometimes, it feel so hard and I always wondering why I get so mature before my time's coming. Enjoy reading.. :)

Hampir 10 tahun saya menjadi penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. 7 tahun menjadi tahun dimana saya mencari dan menunaikan kewajiban saya kepada orang tua saya yaitu menjadi pelajar di kota yang memang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar. Di daerah yang sangat asing bagi saya karena saya bukan penduduk asli, saya menemukan keramahan yang menjadi ciri khas daerah ini. Tapi juga saya belajar mengenal berbagai karakter orang yang saya temui sepanjang 10 tahun menetap di kota ini.

Tahun ke-6 adik saya Iqbal menyusul saya menuntut ilmu di kota ini. Tanggung jawab baru bertambah lagi. Dan waktu itu saya sudah masuk semester 6 kuliah saya. Saya belajar menjadi orang tua. Memastikan adik saya itu tidak sakit, semua kebutuhan sekolahnya terpenuhi, dan yang pasti saya tetap bisa menyelesaikan kuliah.

Setahun kemudian adik perempuan saya menyusul lagi. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, rejeki orang tua saya ada hingga mama membelikan kami sebuah rumah yang tidak terlalu besar untuk saya tinggali bersama adik-adik saya. Saya berpikir tanggung jawab yang lebih besar datang lagi mengingat adik perempuan saya ini begitu manja pada saya. Meski bukan manja yang merugikan tapi tinggal jauh orang tua bukanlah satu keahliannya. ;)

"Family quarrels have a total bitterness unmatched by others.  Yet it sometimes happens that they also have a kind of tang, a pleasantness beneath the unpleasantness, based on the tacit understanding that this is not for keeps; that any limb you climb out on will still be there later for you to climb back." Mignon McLaughlin

Saya pernah menulis sebelumnya bahwa gelar kakak di depan nama saya justru lebih berat pertanggung jawabannya dari pada gelar sarjana di belakang nama saya. Terkadang saat merasa benar-benar terpuruk, ingin rasanya protes kenapa saya harus menjadi kakak dari adik-adik yang begitu keras kepala yang susah diajak kerja sama yang kadang-kadang ingin rasanya berteriak di depan mereka (ketika itu). Tapi babhe saya selalu berpesan kalau Allah tidak pernah memberikan cobaan atau masalah diluar batas kemampuan kita. Dan yaa, saya belajar banyak dari adik-adik saya. Saya belajar menjadi seorang koki yang meski tidak sekelas anna olson atai rachel ray, saya bisa memasak masakan mama ketika lebaran kami hanya bertiga. Saya belajar menjadi seorang cleaning service yang dirt defiant yang akan risih kalau ada yang kotor atau berantakan. Belajar menjadi seorang psikolog dimana nasehat-nasehat saya (ceileehhh nasehhaaattt) akan menjadi penyejuk jiwa adik-adik saya saat mereka mulai merindukan rumah dan mama. Saya belajar menjadi seorang akuntan yang akan amat sangat bingung ketika pemasukan dan pengeluaran keuangan rumah tangga saya ini terdapat selisih. Saya menjadi kepala keluarga yang bertugas menyelesaikan semua persoalan yang timbul. Hingga tulisan ini saya publish percayalah saya masih sama, berkutat dengan kesibukan bekerja menjadi associate lawyer dan menjadi ibu rumah tangga saat weekend.

"Turning 25 is not a “milestone” birthday. But it does signify an important milestone: becoming a quarter of a century."
 
 
I'm turned 25 years old last May 23,2013. No special ocassion but yeaa my prince charming give the first birthday wishes. I fall asleep that night and feel so blessed Allah still gave me another year to live.
 
Entah kenapa kali ini saya benar-benar tidak menginginkan perayaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya mengahbiskan waktu bersama beberapa teman dan tentu saja adik-adik saya. Sambil makan dan mikir "waoow udah 25 taon ajee". Seathun lagi bertambah dan setahun lagi jatah hidup berkurang. Mulai semakin mikir mau jadi apa besok setelah hasil UPA yang sangat diluar dugaan. But thats ok. Saya percaya, semua sudah diatur, rejeki tidak pernah tertukar. Dari sekian doa yang begiatu banyak diberikan oleh teman, sahabat keluarga dan kenalan, doa dari mama yang ngena banget dihati. Intinya sih minta buruan nikah, hehehee tapi I know my mom, beliau hanya ingin mengingatkan dengan cara yang halus setelah menyadari anak gadisnya ini sudah berusia 25 tahun. :) I love the way my mom remimd me about getting married. There's a pray on that text she sent me. I just know.
 
Entah mengapa, saya masih merasa bertanggung jawab terhadap ketiga adik saya. Meski mereka sudah dewasa, tetapi tetap saja saya merasa mereka masih perlu pengawasan. Dan kadang-kdang itu membuat mereka risih dan sedikit marah. Hahaha. I'm the big sister right? I can do anything I want to my lil sister and lil brother. Namun setelah menginjak usia 25 tahun, saya malah semakin mencemaskan mereka bukan sebaliknya.
 
Seperempat abad sudah hidup didunia ini. Menjadi saksi perubahan zaman yang semakin hari semakin modern saja. Saya belajar banyak dan menjadi lebih menyederhanakan setiap persoalan. Bila dulu semua masalah kecil akan menjadi masalah besar buat saya, maka saat ini saya benar-benar bisa memprioritaskan mana masalah yang harus serius dipikirkan atau yang hanya sekedar meramaikan otak  saraf saya. Dan that's work so great. Saya tidak perlu memikirkan berapa banyak lagi sms atau telepon yang akan saya terima hanya sekedar untuk menjelek-jelekkan saya. Hey! I'm a lawyer, I'm the one who look for people's trouble and be the problem solver at the time. ;p
 
25 tahun itu tahun perak alias silver age, it only come once in a lifetime. Life is simple, we make decision and never regret it. Saya punya mimpi besar. Menjadi pengusaha juga advokat. Advokat yang tidak memungut sepeser biaya pun. Kalau kata babhe saya, advokat tidak mampu alias hanya mendampingi dan menerima kasus-kasus bagi orang yang tidak mampu. Kalau pengusaha, jelas itu mimpi mamakhe. Meski sejak sekarang saya sudah mulai merintis sedikit demi sedikit, paling tidak saya belajar. Jika Allah tidak menuliskan saya menjadi seorang advokat hebat kela dikemudian hari, mungkin saya akan menjadi pengusaha sukses sekelas bapak Jusuf Kalla. hehee ;)
 
Terkadang, kita begitu disibukkan oleh kesibukan yang sebenarnya bukan sebuah kesibukkan yang yang menyita waktu. Hanya saja terkadang juga kesibukkan itu menjadi sebuah pelarian dan alasan kita untuk tidak ditanyai oleh keluarga. Tapi, ingatlah satu hal, saat tidak ada lagi yang peduli dengan keadaan kita terutama pada saat kesusahan, keluarga akan menjadi tempat pertama kita pulang. Mereka (dalam hal ini adik-adik saya) akan selalu ada untuk saya walau terkadang mereka membuat tense dan kadar stress saya naik drastis. Mereka itu tanggung jawab saya. Akan selalu begitu. 
 
"Because family are just like branches on a tree, we all grow in different directions, yet our roots remain as one." Howard Hunter
 
 

 
 
P.S : It took 25 years to look this great.;p



Tidak ada komentar:

Posting Komentar