"Perasaan itu seperti ombak,, kita tidak bisa menduga atau memastikan atau bahkan menolak datangnya, tapi kita bisa memilih ombak mana yang akan kita gunakan untuk berselancar. Sama seperti kita tidak bisa mengatur kemana arah angin bertiup tapi kita bisa mengatur layar perahu kita hingga kita tiba di tempat tujuan"
Waaw,, sudah masuk bulan baru lagi, bulan Mei (May). Bulan yang menurut saya adalah bulan penuh harapan dan bulan kelahiran saya. Entah apa karena diet saya yang menyebabkan saya merasa selalu lapar atau karena sesak nafas yang membuat saya tetap tidak bisa tidur. Namun seperti biasa (ini tipikal saya) sebelum tidur saya mengingat-ingat lagi apa yang telah saya lewati hingga malam ini. Terkadang ada sedikit penyesalan yang diawali dengan kalimat : "seandainya...", atau "mungkin kalau...", dan pada akhirnya membuat saya sadar bahwa kita hidup untuk masa depan dan kita tidak akan pernah punya rencana masa depan yang indah jika kita masih saja menyesali apa yang terjadi di masa lalu. My friend use to say : "great future is the past that forgotten". Deep words right?? Ya, begitulah.. karena saya percaya bahwa masa lalu yang bagaimanapun indah atau buruknya membawa kita ke titik tempat kita berdiri saat ini. Jika tidak melalui masa lalu, kita tidak akan pernah sampai ke masa sekarang ini.
Seringnya kita berfokus pada apa yang tidak kita miliki atau apa yang yang telah diambil dari kita. Saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang begitu. Ketika adik saya almarhum Adam Isnain Rumodar dipanggil pulang oleh Sang Khaliq,, saya merasa seolah langit runtuh menimpa saya, dan semua yang saya lakukan selama ini seolah tidak bernilai apa-apa. Dan untuk waktu yang sangat lama saya selalu bertanya kenapa adik saya? atau kenapa keluarga saya? Kenapa bukan keluarga koruptor saja yang jelas-jelas melakukan dosa yang dipanggil pulang? Pertanyaan-pertanyaan serupa terus berputar dalam pikiran saya. Dan itu membuat saya merasa tidak penting lagi berdoa pada Tuhan atau melakukan sesuatu yang baik. Ya, saya berubah menjadi orang yang agamanya hanya ada di KTP atau SIM. Itu berlangsung beberapa saat sampai akhirnya ketika saya sedang dalam perjalanan menuju tempat KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya bertemu dengan dan berbincang sesaat dengan seorang anak penderita Tunarungu dan Tunawicara. Dia bercerita tanpa perlu ditanya tentang kehidupannya. Tapi karena itu pertama kali untuk saya berbicara dengan anak difabel, saya belum paham betul apa yang dia ceritakan. Karena rasa penasaran saya, setiba di rumah saya langsung membuka internet dan mencari cara berkomunikasi dengan anak tunarungu dan tunawicara. Saya menghafal semuanya, mengeprint gambar cara bekomunikasi hanya dalam waktu semalam. Saya mengorbankan waktu istirahat saya untuk mengingat kembali bahasa isyarat itu dan tidak sabar untuk kembali bertemu dengan anak di tempat KKN saya itu.
Esoknya, dengan sangat bersemangat saya bertanya padanya dengan menggunakan bahasa isyarat. "apa kabar dek, masih semangat kan?" dia sebut saja Tia dengan raut wajah terkejut tapi tetap tersenyum langsung menjawab dengan bahsa isyarat juga "alhamdulilah baik mbak, masih dong. Setiap hari harus semangat, meski tidak setiap hari itu bahagia, tapi setiap hari pasti punya kebaikan. Dan Tia percaya Allah selalu menyimpan hadiah terindah bagi orang yang selalu bersyukur", seketika seperti mendapat tamparan keras saya tersadar. Mudah bagi saya menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpa adik saya, tapi terlupakan bahwa masih ada orang lain yang lebih menderita daripada saya. Mudah bagi saya melupakan jalan kebenaran yang selama ini melindungi saya dan melupakan bahwa masih banyak orang yang harus berjuang keras hanya untuk bertahan dalam hidup yang keras. Saya dan tia kemudian berbincang meski saya juga masih harus belajar dan bertanya kembali apa yang dia bicarakan. Dari cerita tia saya tahu bahwa dia juga kehilangan adik dan kakaknya sehingga orang tuanya berusaha keras menjaganya agar tidak terjadi apa-apa padanya. Dan saya tersadar bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada siapa pun, semua sudah tertulis dalam skenario yang ditulis oleh Sutradara Yang Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Mungkin dengan dijemputnya adik saya itu saya dan keluarga saya harus lebih hati-hati dan harus lebih saling menjaga satu sama lain. Diakhir hari itu, saya memeluk tia erat dan berterima kasih sambil berlinang air mata yang disaksikan 32 orang teman-teman kampus lain yang mungkin keheranan atas kejadian itu.
Sejak hari itu, tak ada hari terlewati tanpa bersyukur atas apa yang masih ku miliki. Meski saya jauh dari adik-adik saya, tiada hari terlewati tanpa mendengar ocehan mereka. Saya percaya bahwa berterima kasih adalah bentuk pemikiran tertinggi dan bersyukur adalah kebahagiaan yang dilipatgandakan oleh ketakjuban.
Terkadang kita menghabiskan banyak waktu untuk mengingat-ingat yang sudah lewat hanya untuk meyakinkan diri kita bahwa kita berhak berbahagia. Atau beranggapan bahwa seharunya bukan seperti itu yang terjadi. Tapi apa yang kita dapatkan selama mengingat-ingat yang sudah berlalu? Hanya waktu yang terbuang dan kita tertinggal jauh oleh orang lain yang berusaha bangkit setelah jatuh dan mencari cara lain untuk berbahagia.
Sahabatku, Everything happened for a reason. Almost everything even though just smile. Don't ever ever regret your past, try to forget and move on. God knows better.
"Orang bijak tidak bersedih untuk hal-hal yang tidak dia miliki tetapi bergembira untuk hal-hal yang dia miliki. Karena yang terpenting dalam hidup bukanlah apa yang diambil dari kita, tetapi apa yang kita lakukan dengan yang tersisa"
Seringnya kita berfokus pada apa yang tidak kita miliki atau apa yang yang telah diambil dari kita. Saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang begitu. Ketika adik saya almarhum Adam Isnain Rumodar dipanggil pulang oleh Sang Khaliq,, saya merasa seolah langit runtuh menimpa saya, dan semua yang saya lakukan selama ini seolah tidak bernilai apa-apa. Dan untuk waktu yang sangat lama saya selalu bertanya kenapa adik saya? atau kenapa keluarga saya? Kenapa bukan keluarga koruptor saja yang jelas-jelas melakukan dosa yang dipanggil pulang? Pertanyaan-pertanyaan serupa terus berputar dalam pikiran saya. Dan itu membuat saya merasa tidak penting lagi berdoa pada Tuhan atau melakukan sesuatu yang baik. Ya, saya berubah menjadi orang yang agamanya hanya ada di KTP atau SIM. Itu berlangsung beberapa saat sampai akhirnya ketika saya sedang dalam perjalanan menuju tempat KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya bertemu dengan dan berbincang sesaat dengan seorang anak penderita Tunarungu dan Tunawicara. Dia bercerita tanpa perlu ditanya tentang kehidupannya. Tapi karena itu pertama kali untuk saya berbicara dengan anak difabel, saya belum paham betul apa yang dia ceritakan. Karena rasa penasaran saya, setiba di rumah saya langsung membuka internet dan mencari cara berkomunikasi dengan anak tunarungu dan tunawicara. Saya menghafal semuanya, mengeprint gambar cara bekomunikasi hanya dalam waktu semalam. Saya mengorbankan waktu istirahat saya untuk mengingat kembali bahasa isyarat itu dan tidak sabar untuk kembali bertemu dengan anak di tempat KKN saya itu.
Esoknya, dengan sangat bersemangat saya bertanya padanya dengan menggunakan bahasa isyarat. "apa kabar dek, masih semangat kan?" dia sebut saja Tia dengan raut wajah terkejut tapi tetap tersenyum langsung menjawab dengan bahsa isyarat juga "alhamdulilah baik mbak, masih dong. Setiap hari harus semangat, meski tidak setiap hari itu bahagia, tapi setiap hari pasti punya kebaikan. Dan Tia percaya Allah selalu menyimpan hadiah terindah bagi orang yang selalu bersyukur", seketika seperti mendapat tamparan keras saya tersadar. Mudah bagi saya menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpa adik saya, tapi terlupakan bahwa masih ada orang lain yang lebih menderita daripada saya. Mudah bagi saya melupakan jalan kebenaran yang selama ini melindungi saya dan melupakan bahwa masih banyak orang yang harus berjuang keras hanya untuk bertahan dalam hidup yang keras. Saya dan tia kemudian berbincang meski saya juga masih harus belajar dan bertanya kembali apa yang dia bicarakan. Dari cerita tia saya tahu bahwa dia juga kehilangan adik dan kakaknya sehingga orang tuanya berusaha keras menjaganya agar tidak terjadi apa-apa padanya. Dan saya tersadar bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada siapa pun, semua sudah tertulis dalam skenario yang ditulis oleh Sutradara Yang Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Mungkin dengan dijemputnya adik saya itu saya dan keluarga saya harus lebih hati-hati dan harus lebih saling menjaga satu sama lain. Diakhir hari itu, saya memeluk tia erat dan berterima kasih sambil berlinang air mata yang disaksikan 32 orang teman-teman kampus lain yang mungkin keheranan atas kejadian itu.
Sejak hari itu, tak ada hari terlewati tanpa bersyukur atas apa yang masih ku miliki. Meski saya jauh dari adik-adik saya, tiada hari terlewati tanpa mendengar ocehan mereka. Saya percaya bahwa berterima kasih adalah bentuk pemikiran tertinggi dan bersyukur adalah kebahagiaan yang dilipatgandakan oleh ketakjuban.
Terkadang kita menghabiskan banyak waktu untuk mengingat-ingat yang sudah lewat hanya untuk meyakinkan diri kita bahwa kita berhak berbahagia. Atau beranggapan bahwa seharunya bukan seperti itu yang terjadi. Tapi apa yang kita dapatkan selama mengingat-ingat yang sudah berlalu? Hanya waktu yang terbuang dan kita tertinggal jauh oleh orang lain yang berusaha bangkit setelah jatuh dan mencari cara lain untuk berbahagia.
Sahabatku, Everything happened for a reason. Almost everything even though just smile. Don't ever ever regret your past, try to forget and move on. God knows better.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar