Hiduplah Untuk Mencintai dan Mencintailah Untuk Tetap Hidup

Perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu justru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti yang kita harapkan dan tidak akan pernah menjadi elang yang terbang bebas membumbung dan menentang cobaan. Kesulitan yang akan kita temui hanyalah 1 dari sekian banyak cara Tuhan untuk membantu kita memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan...

Cinta itu menyembuhkan manusia baik yang memberi maupun yang menerima.. Karena mencintai adalah meletakkan kebahagiaan kita di dalam kebahagiaan orang-orang yang mencintai kita.. Kegembiraan sejati tidak berasal dari kemudaha yang menyertai kekayaan atau dari pujian-pujian, tetapi berasal dari melakukan sesuatu yang berguna...

Bila kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kapan waktu kita habis, kita akan menghayati setiap hari dalam hidup kita seolah kita hanya hidup untuk hari itu saja..

Kamis, 22 Desember 2011

A GIFT FOR MOTHER

“Hak paling istimewa yang dimiliki perempuan adalah menjadi seorang ibu. Karena masa muda memudar, cinta mulai layu, daun-daun persahabatan berguguran namun harapan terpendam seorang ibu akan tetap teguh”

Aku belum menikah dan pasti belum punya anak. Ya, walaupun sebagian besar kawan-kawan masa kecilku sudah banyak yang menikah dan punya anak,, itu tidak mengganggu pikiranku hingga ketika aku pulang ke rumah orang tuaku,, mama mulai menanyakan target menikah. Apa yang harus ku katakan agar tidak melukai hati mamaku?? Kemudian aku berujar : “Fitry belum bisa jadi seperti mama, jadi belum berani menikah”. Ku lihat senyum mamaku dan samar kulihat mata mama dan mungkin ada seuntai doa yang terurai semoga kau mendapatkan orang yang baik anakku.

“Mama,, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai sinyal provider HP didaerah terpencil,, menyayangimu lebih dari HP baru hasil tabunganku,, mengagumimu lebih dari aku mengagumi Jessica Alba dan Victoria Beckham juga Angelina Jolie dan Celine Dion.....”

23 tahun lalu saat mama memutuskan untuk menghadirkanku kedunia,, mama sudah tau pasti apa yang diharapkannya dari seorang putri kecilnya yang kini beranjak dewasa. Selama 23 tahun ini minus 6 tahun karena aku memutuskan melanjutkan sekolah jauh dari mama,, aku menyaksikan betapa hebatnya mamaku. Mengurus kelima anaknya dan juga mengurus tanggung jawabnya sebagai seorang pegawai negeri hingga sekarang. Setiap kali melihat mama bekerja dirumah membuatku bertanya-tanya apakah aku bisa seperti mama?? Dan mama yang menyadari tanda tanya besarku saat itu selalu menjawab : “besok pasti kau ngerti kenapa mama bisa seperti ini.” Dan besok yang belum ku tahu kapan lebih tepatnya. J

“Pelukan seorang ibu adalah pelukan terbaik yang pernah ada. Karena seorang ibu bisa mengetahui segala hal tentang anaknya. Para ibu memiliki indra keenam yang selalu seirama dengan anak mereka dan selalu bisa mendengar mereka berseru minta tolong.”

September 1998
Aku terserang demam tinggi saat itu. Yang ku ingat hanyalah mama bersedia tidak masuk kerja hanya untuk menemaniku dan melayani semua keluh kesahku yang saat ini ku sadari sangat konyol dan tak masuk akal. 13 tahun yang lalu dengan kondisi keuangan keluargaku yang tidak secukup sekarang dimana prinsip orang miskin dilarang sakit menjadi bagian dari keluarga kami. Namun mama dengan santainya membawaku ke dokter yang berarti sejumlah biaya untuk keperluan lain terpaksa harus terpakai. Tidak ku lihat ada sedikit beban dalam mata mama, atau perasaan tidak ikhlas dan khawatir kami tidak akan bertahan hingga akhir bulan ini. Justru sebaliknya, aku melihat mama begitu khawatir melihatku terbujur lemah dengan t-shirt warna merah dan celana pendek kotak-kotak. Membuatkanku makanan terlezat di dunia yang bahkan chef sekelas Gordon Ramsay pun tidak akan mampu membuatnya. Berkat perhatian mama sejak aku masih dalam kandungannya hingga aku besar kini,, aku tidak begitu lama berkutat dengan penyakit. Hanya 2 hari atau 3 hari paling lama. Dan itu membuat mama lebih memperhatikan kesehatan kami anak2nya. Aku lupa apa yang terjadi setelah mama menggunakan uang untuk keperluan lain itu sebagai biaya pengobatanku,, namun yang aku tau pasti kami masih bertahan dan berkecukupan hingga saat ini. Dan aku bersyukur untuk itu...

“Mama,, aku mencintaimu karena kau membuatku tertawa,, membuatku tumbuh menjadi seseorang yang selalu diperhitungkan saat penerimaan raport,, membuatku menjadi seseorang yang dengan cepat belajar tentang arti kehidupan dan pengorbanan serta keikhlasan...”

Juni 2003
Aku memutuskan melanjutkan sekolahku jauh dari mama. Meski mama sempat menemaniku untuk menemukan sekolah yang bagus tapi tetap saja tanggung jawab terhadap negara dan masyarakat harus tetap dijalani. Dan itu membuat 6 bulan pertamaku tak pernah terlewati tanpa derai air mata di penghujung malam. Berharap aku seharusnya tidak melakukan ini, seharusnya aku tetap berada dekat dengan mama bukan disini di dalam kamar berukuran 3x1,5 meter sendiri dan menangis. Dan saat itu HP merupakan barang mewah yang tak sanggup ku beli hingga aku naik ke kelas 2 SMA. Namun interlokal yang ku lakukan sebulan sekali untuk sekedar mengetahui kabar mama dan papa juga adik-adikku membuat mama memutuskan untuk membelikanku HP meski bukan keluaran terbaru ataupun seri termahal,, tapi paling tidak aku bisa berkirim pesan setiap hari dan juga mendengar nasihat mama agar tetap bertahan meski rasanya kakiku tidak sanggup lagi menopang tubuhku. Teringat pesan mama saat aku mengeluh ingin pulang,, mama bilang : “hidup ini pilihan nak,, kau sudah milih buat sekolah jauh dari mama jadi belajar bertanggung jawab sama pilihanmu. Tidak ada yang sulit kalau kau percaya kau bisa. Mama selalu doakan kau.” Aku tertegun merenungi kata-kata mama dan tersadar,, inilah pilihanku, dan akan ku buktikan pada mama bahwa aku bertanggung jawab atas pilihanku.

“Mama.. Terima kasih untuk tetap menyayangiku meski aku tau aku sangat menyebalkan.. Terima kasih untuk tetap memaafkanku meski aku seringkali mengecewakanmu.. Terima kasih untuk selalu memelukku saat aku benar-benar terpuruk..”

Tahun-tahun berikutnya di negeri orang menunaikan tanggung jawabku menuntut ilmu. Banyak kisah terjadi. Termasuk kisah sakit hati dan patah hati oleh seseorang. Aku berpikir dialah yang terbaik untukku hingga saat dia bertemu dengan mama,, mama langsung mengatakan padaku dia tidak pantas untukmu sayang. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik. Dan aku yang begitu egois karena merasa sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri tetap teguh bertahan dengan hubungan itu. Mama yang hanya ingin melihatku bahagia terpaksa mengikuti kemauanku. Tahun ketiga saat aku mengabarkan kepada mama aku mendapat beasiswa belajar ke luar negeri, ku dengar suara mama diujung telepon berucap syukur dan langsung menyusun daftar apa saja yang harus ku lakukan selama belajar diluar negeri. Masih dengan efek suara haru, bangga, dan khawatir khas mamaku. Sekali lagi hatiku diuji dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu dan semakin yakin mama benar akan segala hal yang terjadi pada diriku. Aku memutuskan pulang ke rumah mama dan yakin bahwa hanya mama yang mampu mengobati segala kegundahan. Meski tak ada penyesalan atas hubungan yang berakhir itu tapi kesedihan karena bersikeras tidak mendengar kata-kata mama membuatku sangat bersalah. Tapi mama tau bagaimana menghiburku. Mama mengatakan kepadaku bahwa hati seorang ibu seperti jurang yang dalam,, di dasarnya kau akan selalu mendapatkan pengampunan. Ku peluk mamaku, mama yang tubuhnya saat ini tak lebih besar dari siswa SMP kelas 2.

“Mama,, kau adalah matahari dalam hidupku... Kau membuat duniaku indah... Terima kasih karena telah membiarkanku memilih jalanku sendiri dan masih tetap setia menuntunku...”

“temanmu yang cakep itu siapa??”, begitu kira-kira saat mama pertama kali menanyakan pria yang sekarang akan menjadi menantunya. Saat aku bertanya kepada mama ada apa ma?? Mama menjawab kayaknya anak itu baik. Dan segera setelah itu aku melakukan pendekatan yang tekun. J Dia yang sekarang akan menjadi menantu mamaku dengan secara mudah mengakui juga mencintai mamaku seperti mamanya. Dan aku yakin kali ini aku tidak akan salah karena mama yang telah memilihkannya untukku dan membiarkanku menjalaninya dengan caraku. Hingga detik tulisan ini saya publish,, dia mengagumi mamaku seperti dia mengagumi mamanya.

Desember 2011
Aku dan mama bercerita tentang masa lalu mama dan merencanakan masa depanku. Meski terdengar sinis, aku tahu pasti mama menginginkan yang terbaik untukku dan dia. Mama bilang, mama tak ingin kejadian hidup susah kembali menimpa anak-anaknya dan cucu-cucunya kelak. Ku peluk mamaku dan bilang, fitry janji akan selalu bahagia untuk mama. Karena dengan mengingat mama fitry bahagia.

Allah....
Terima kasih karena sudah memberikan mama seperti mamaku...
Terima kasih karena sudah membiarkanku memiliki mama seperti mamaku...
Terima kasih karena sudah mengijinkanku lahir dari rahim mamaku...
Dan,,
Terima kasih karena telah mempertemukan kedua orang tuaku yang selalu menjadi inspirator terhebat yang tak kenal lelah.....
Bila masih ada ruang untuk do’aku tolong bahagiakan mamaku seperti mama yang selalu membahagiakan aku dan membuatku menjadi seseorang yang lebih baik....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar