“Memaafkan tidaklah menambah apa-apa kepada seorang hamba, kecuali kemuliaan. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian memafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian.”
(HR. Ibnu Abiddunya)
Banyak dari kita yang sering berkata : “ya sudah ku maafkan.”,, tapi benarkah kita sudah memaafkan?? Atau itu hanya sekedar pemanis bibir dan tidak merasuk di hati. Saya telah banyak (tidak terlalu banyak hanya sepanjang hidup saya),, melihat dan mendengarkan cerita-cerita orang2 yang marah, kecewa terhadap perbuatan sesamanya yang cenderung merendahkan dan tergolong mendzalimi sehingga membuat mereka yang bercerita itu menjadi jengkel, benci, dan bahkan dengki dan dendam terhadap perbuatan orang2 yg “mendzalimi” mereka. Saya juga pernah merasakan hal yang sama,, merasa direndahkan dan mereka2 yang sering saya sebut sedang tidak dalam kondisi sadar ( kalau mereka sadar mereka tidak akan melakukan hal tersebut) selalu berbuat hal2 yang luar biasa sungguh diluar jangkauan saya. Membuat berita dan cerita2 tidak sedap layaknya saya seorang selebritis yang butuh di”dongkrak” popularitasnya. Terkadang sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa ada baiknya saya membalas perbuatan mereka terhadap saya,, namun saya tersadarkan dan teringat pesan ayahanda saya yang selalu berkata : “jika kita membalas perbuatan buruk orang lain terhadap kita dengan hal yang buruk juga, maka kita tidak berbeda dengan mereka”. Dan kalimat itu seolah menjadi main shield saat saya berpikir untuk membalas perbuatan buruk orang2 tersebut. Tapi saya hanyalah seorang manusia biasa yang setiap saat selalu berbuat kesalahan dan terkadang (mungkin sering) terbesit benci dan kedengkian dan saat itu semua hadir kembali saya teringat kata2 ayahanda saya. Saya cinta persaingan dan persaingan untuk lebih memaafkan selalu menjadi tantangan tersendiri. Saya harus lebih baik dari orang lain dalam hal memafkan dan mengikhlaskan. And the target is still on going. J
“Bersatulah dengan orang yang menjauhkan diri darimu, Maafkanlah orang yang berbuat salah kepadamu, Berikanlah sesuatu kepada orang yang mengambil hak milikmu, dan berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”
Mudah untuk mengucapkan “sudah maafkan saja” atau “ikhlasin aja”,, tapi jujur hingga detik tulisan ini saya publish, saya masih merasa belum bisa melupakan setiap kalimat fitnah yang lumayan mengganggu pikiran saya. Tapi itu bukanlah sesuatu yang buruk karena pada akhirnya saya sadar dan yakin orang2 yang telah mengucapkan kalimat2 itu memiliki perhatian dan waktu berlebih untuk mengingat saya dan melihat kesalahan2 yang tidak saya lakukan (atau mungkin akan saya lakukan) jika mereka tidak membuat kalimat tersebut. Sehingga, kalimat fitnahan mereka itu saya jadikan cermin untuk introspeksi apakah saya terlihat seperti itu di mata mereka ataukah itu hanya cara untuk menjatuhkan saya. Sehingga, jika :
1. Saya terlihat seperti yang mereka ucapkan sedangkan saya tidak merasa melakukan sesuatu yang menyinggung mereka, maka saya akan selalu dan terus memperbaiki diri saya dan terus menerus memacu diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik; atau
2. Mereka hanya berusaha menjatuhkan saya dengan kalimat2 itu, maka saya akan tunjukkan dan buktikan kepada mereka bahwa mereka salah dan saya tetap akan berbuat baik kepada mereka meski dalam hati pasti ada sedikit kecewa dan marah. Tapi tetap saja pada akhirnya saya akan membuktikan bahwa DENGAN MEMBUAT ORANG LAIN TERLIHAT BURUK TIDAK AKAN MEMBUAT DIRI KITA TERLIHAT LEBIH BAIK. KARENA MENJELEK-JELEKAN ORANG LAIN MERUPAKAN CARA TIDAK JUJUR UNTUK MEMUJI DIRI SENDIRI.
“Love is the only power that can turn an enemy to a friend,, and by forgiving one to another,, we are all becoming more human”.
Orang yang memaafkan secara tulus sesungguhnya telah berupaya menyehatkan dirinya sendiri, karena dengan memaafkan, berarti dia mampu menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha melupakan dan kemudian membuka lembaran baru yang putih dan segar. Memaafkan bukanlah sebuah aib, bukan juga menunjukkan pribadi yang lemah.
Tidak mudah memang menyembuhkan luka batin atau perasaan dan melupakan orang yang sudah menyakiti perasaan kita, apalagi jika kita direndahkan di depan umum. Rasa kesal dan kecewa yang begitu menghujam di hati hanya akan menjadi beban yang takkan berbuah kebaikan, malah bisa jadi penyakit. Sebenarnya jika kita menyadari tak ada manusia yang sempurna dan tidak terlepas dari kesalahan,, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang lain.
Karena cinta dan memaafkan adalah dua hal yang saling mendukung untuk hidup damai sejahtera, sehat lahir batin. Memaafkan bukanlah sebuah perasaan tapi sebentuk tindakan, sebentuk kemauan dari diri seseorang. Kita bisa memaafkan jika kita menghendakinya. Sehingga,, memaafkan adalah mengikhlaskan harapan bahwa masa lalu mungkin bisa menjadi lebih baik.
“Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar